Perwakilan maskapai Indonesia AirAsia akhirnya bertemu langsung dengan para penyintas gempa dan tsunami Palu di Kelurahan Mamboro, Kota Palu, pada Sabtu (7/3/2026). Kunjungan ini menjadi momen emosional bagi kedua belah pihak, sekaligus ajang apresiasi terhadap keberhasilan pemulihan mandiri yang didukung oleh program kemanusiaan AirAsia.
Momen Pertemuan Penuh Haru
Pertemuan ini menandai kali pertama pihak maskapai melihat langsung hunian tetap (huntap) mandiri yang dibangun melalui dukungan program kemanusiaan mereka pascabencana besar 2018. Sebelumnya, Indonesia AirAsia baru saja meresmikan penerbangan perdananya dari Kota Palu.
Emilia, salah seorang warga Huntap Mosinggani, mengungkapkan perasaannya. “Selama ini kami banyak mendengar soal AirAsia yang mendukung kami dalam pemulihan, tapi belum pernah bertemu langsung,” ujarnya. Sebanyak 39 keluarga yang menghuni kawasan tersebut menyambut hangat rombongan AirAsia, menjadikan pertemuan ini sangat berkesan.
Model Pemulihan Berbasis Komunitas
Rombongan AirAsia didampingi oleh perwakilan Yayasan Arsitek Komunitas Indonesia (Arkom), mitra AirAsia yang mendampingi komunitas penyintas sejak fase tanggap darurat, rehabilitasi, rekonstruksi, hingga pemulihan ekonomi. Warga dengan bangga memperlihatkan permukiman mereka yang pada tahun 2021 lalu meraih penghargaan internasional dalam ajang World Habitat Awards.
Hunian penyintas di pesisir Palu ini dipuji karena berhasil memadukan kearifan lokal rumah panggung khas masyarakat pesisir dengan inovasi konstruksi panel rumah tahan gempa. Kawasan ini juga adaptif terhadap risiko bencana dan perubahan iklim, dengan skema relokasi mandiri sekitar 200 meter dari garis pantai, sesuai zona merah tsunami pascabencana 2018.
Keunikan lain adalah warna rumah yang berbeda-beda, dipilih sesuai keinginan pemilik. Hal ini bahkan dinilai berpotensi dikembangkan sebagai daya tarik wisata berbasis komunitas.
Potensi Ekonomi dan Kolaborasi Masa Depan
Dalam kesempatan tersebut, warga juga memamerkan produk olahan ikan asin, salah satu sumber penghidupan utama mereka. Emilia menambahkan, “Potensi ekonominya besar, apalagi kalau pemasarannya dilakukan lebih luas.”
Head of Indonesia Affairs and Policy Indonesia AirAsia, Eddy Krismeidi Soemawilaga, menyatakan kunjungan ini adalah bentuk silaturahmi dan apresiasi terhadap praktik baik warga dalam membangun ketangguhan pascabencana. “Banyak potensi yang bisa dikembangkan dari sini. Ini membanggakan. Ke depan peningkatan kapasitas warga dan penguatan pemasaran bisa menjadi bentuk kolaborasi,” kata Eddy.
Senada, Direktur Yayasan Arsitek Komunitas Indonesia, Yuli Kusworo, melihat pertemuan ini sebagai momentum untuk memperkuat ikatan kemanusiaan dan membuka peluang kolaborasi yang lebih luas. “Pola kolaborasi kemanusiaan antara penyintas dan AirAsia di Mamboro ini merupakan model yang bisa direplikasi di lokasi lain. Program kemanusiaan yang tidak hanya memulihkan kondisi fisik pascabencana, tetapi juga psikis dan ekonomi warga,” jelas Yuli.
