Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatra Utara, kini menghadapi krisis air bersih yang serius, meskipun akses jalan menuju wilayah tersebut telah kembali normal pascabanjir dan longsor. Warga setempat masih kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari, bahkan setelah bantuan tangki penampungan air (toren) disalurkan.

Akses Jalan Pulih Berkat Kolaborasi

Sebelumnya, jalur transportasi menuju Kecamatan Tukka sempat terputus total akibat material longsor yang menyumbat aliran Sungai Aek Godang dan Sungai Sigotom. Badan jalan berubah menjadi aliran sungai, melumpuhkan aktivitas warga.

Namun, setelah beberapa hari upaya pembersihan intensif, sumbatan material longsor berhasil diatasi. Luapan air sungai ke badan jalan mulai surut, dan arus lalu lintas kembali normal. Proses normalisasi sungai dan pembersihan jalan ini merupakan hasil kolaborasi lintas sektor yang melibatkan alat berat serta gotong royong personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI, Polri, dan masyarakat setempat.

Adian Siregar, warga Kelurahan Tukka, mengungkapkan rasa syukurnya atas pemulihan akses jalan. “Sudah beberapa hari ini alat berat membersihkan Sungai Sigotom dan Aek Godang. BPBD, BNPB, polisi, TNI, dan masyarakat ikut bergotong royong membersihkan jalan dan membuat parit. Sekarang aliran sungainya mulai lancar, air tidak lagi meluap ke jalan, mobil pun sudah bisa lewat,” kata Adian pada Minggu (21/12).

  Nasir Djamil: 'Sungguh Pahit Penderitaan Mereka,' Belasan Desa di Aceh Tengah Terisolasi Sebulan, Krisis Air dan Panen Membusuk

Krisis Air Bersih Jadi Tantangan Baru

Meski akses distribusi bantuan kini berjalan lancar, Adian menyoroti persoalan baru yang mendesak, yakni krisis air bersih. Pasokan air untuk kebutuhan sehari-hari dinilai masih jauh dari mencukupi, meskipun bantuan toren telah disebar di berbagai dusun.

“Setelah air surut, bantuan makin banyak masuk. Tapi air bersih masih agak sulit. Sudah ada bantuan toren hampir di setiap dusun, ada yang diisi sampai tiga kali sehari, tapi masih belum cukup,” ujarnya.

Senada dengan Adian, Marlina, warga Dusun Gotom, menyebutkan bahwa pembersihan lingkungan dari timbunan material lumpur masih terus dilakukan. Ia berharap pemerintah daerah dapat menambah unit alat berat agar proses pemulihan permukiman warga bisa berjalan lebih cepat.

“Gang di dusun kami sedang dikeruk, tanahnya dipindahkan ke tempat yang lebih rendah. Tapi harapannya alat berat bisa ditambah supaya pembersihan lebih cepat,” tutur Marlina.

Harapan Perbaikan Infrastruktur Air

Hingga saat ini, pemulihan pascabencana di Tapanuli Tengah terus menjadi prioritas. Warga berharap pihak terkait tidak hanya fokus pada perbaikan akses jalan, tetapi juga mempercepat perbaikan infrastruktur air bersih. Hal ini krusial untuk menjamin kesehatan dan sanitasi masyarakat terdampak, serta mencegah potensi masalah kesehatan lanjutan.

50% LikesVS
50% Dislikes