Setelah lima bulan ditutup, Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo kini kembali membuka pintunya untuk umum. Sejak beroperasi kembali, lebih dari 60 ribu pengunjung tercatat telah memadati destinasi wisata yang berlokasi di jantung Kota Bandung tersebut.
Humas Bandung Zoo, Sulhan Syafi’i, pada Minggu (4/1/2026) menyatakan bahwa Bandung Zoo merupakan ikon Kota Bandung. Ia juga menyoroti fenomena menarik di mana pengunjung yang datang turut berdonasi, baik berupa pakan satwa maupun uang.
“Jujur saja, kami juga kaget. Ternyata sayangnya warga Bandung dan lainnya ke kebun binatang ini luar biasa,” ungkap Sulhan Syafi’i, yang akrab disapa Aan.
Menurut Aan, donasi tidak hanya datang dari warga Kota Bandung, tetapi juga dari luar daerah, komunitas, dan aktivis pecinta satwa. Bahkan, beberapa kebun binatang lain ikut memberikan dukungan. Donasi tersebut dapat diserahkan di pintu masuk tanpa paksaan dan tanpa tiket berbayar.
“Kami sengaja mengarahkan donasi dilakukan di pintu masuk. Pengunjung yang membawa sayur atau pakan satwa diminta menyerahkannya kepada petugas, bukan dibawa masuk ke dalam area kandang. Kebijakan ini diambil demi keselamatan satwa dan pengunjung, mengingat kondisi kebun binatang yang kini sangat padat,” jelas Aan.
Meskipun demikian, pengelola tetap memperbolehkan pengunjung masuk ke Bandung Zoo kendati tidak membawa donasi. Saat ini, jam operasional Bandung Zoo dibatasi mulai pukul 09.00 WIB hingga 14.00 WIB.
Pembatasan jam operasional ini dilakukan demi menjaga keselamatan, mengingat di dalam kawasan terdapat 711 satwa yang membutuhkan pengawasan ekstra. “Seluruh karyawan, terutama para keeper, dikerahkan dengan tingkat konsentrasi tinggi. Aktivitas feeding satwa pun ditiadakan sementara, termasuk penjualan pakan di dalam area. Kita ini ruang publik, tapi ada satwanya, jadi penyesuaiannya harus ekstra,” ucap Aan.
Untuk pengamanan, Bandung Zoo berkoordinasi dengan berbagai instansi, termasuk Polsek setempat, Satpol PP, hingga BKSDA Jawa Barat (Jabar) yang ikut berjaga dan berpatroli setiap hari. Kondisi sejauh ini terpantau kondusif.
Pengunjung bebas menikmati ruang terbuka hijau, menggelar tikar untuk botram, atau sekadar berjalan santai. Namun, pengelola tetap mengingatkan soal ketertiban, mulai dari antrean masuk, penggunaan sound system, area merokok, hingga pengelolaan sampah. “Kami juga siapkan tempat sampah, trash bag, sampai pengolahan sampah sendiri,” tandas Aan.
