Jumlah warga terdampak banjir di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, terus bertambah signifikan. Hingga Sabtu (3/1), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjar mencatat sebanyak 117.836 jiwa dari 41.832 keluarga telah terdampak bencana ini. Dari jumlah tersebut, 4.695 orang di antaranya terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Banjar menunjukkan bahwa banjir masih merendam 24.278 rumah. Genangan air tersebar di 124 desa yang berada di 10 kecamatan berbeda. Untuk menampung para pengungsi, sebanyak 18 posko telah disiapkan, sementara sebagian warga memilih untuk berlindung di rumah kerabat atau lokasi lain yang dianggap lebih aman.
Pergeseran Lokasi dan Potensi Perluasan Banjir
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar, Yayan Daryanto, menjelaskan bahwa kondisi banjir saat ini mengalami pergeseran. “Kondisi banjir mengalami pergeseran dari wilayah hulu ke wilayah hilir. Seiring masih tingginya curah hujan, potensi perluasan banjir masih terbuka,” ujar Yayan.
Senada dengan Yayan, Kepala Bidang Penanganan Bencana Dinas Sosial Kalimantan Selatan, Ahmadi, juga mengonfirmasi perluasan genangan. “Genangan banjir kini meluas ke wilayah hilir, seperti Kecamatan Sungai Tabuk dan sejumlah daerah dataran rendah lainnya,” kata Ahmadi.
Bantuan Tanggap Darurat dan Peringatan Dini
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan memastikan bahwa ketersediaan bantuan tanggap darurat bagi korban banjir dalam kondisi mencukupi. Dinas Sosial Kalimantan Selatan setiap hari aktif menyalurkan puluhan ribu paket makanan melalui dapur umum. Bantuan ini didistribusikan baik ke posko-posko pengungsian maupun langsung ke lokasi-lokasi yang terdampak banjir.
Berdasarkan pemantauan terkini, hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi masih mengguyur sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan. Kondisi ini diperparah dengan peringatan dini yang dikeluarkan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) III Kalimantan. Peringatan tersebut menyusul adanya peningkatan tinggi muka air di sejumlah sungai besar dan bendung di wilayah tersebut, mengindikasikan risiko banjir yang berkelanjutan.
