Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan tren hujan lebat di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) akan melandai secara bertahap pada dasarian I Januari 2026, yakni periode 1 hingga 10 Januari. Meskipun demikian, masyarakat diimbau untuk tetap mewaspadai potensi banjir lokal.
Prakirawan Stasiun Klimatologi BMKG NTB, Afriyas Ulfah, di Mataram pada Jumat (2/1/2026) menjelaskan bahwa peluang terjadinya hujan dengan intensitas lebih dari 100 milimeter per dasarian berada di kisaran 30 hingga 40 persen. “Peluang terjadi hujan dengan intensitas lebih dari 100 milimeter per dasarian sebesar 30 sampai 40 persen,” kata Ulfah.
Ulfah menambahkan, daerah yang masih berpotensi diguyur hujan lebat meliputi wilayah Pulau Lombok bagian utara dan selatan. Sementara itu, peluang hujan dengan intensitas lebih dari 50 milimeter per dasarian diperkirakan mencapai 70 hingga 90 persen, mencakup seluruh Pulau Lombok dan sebagian besar wilayah Kabupaten Sumbawa Besar.
Penurunan Curah Hujan Sejak Akhir 2025
BMKG mencatat, tren penurunan curah hujan ini telah teramati sejak dasarian III Desember 2025, yaitu dari tanggal 21 hingga 31 Desember. Pada periode tersebut, curah hujan secara umum bervariasi dari kategori rendah (0-50 milimeter per dasarian) hingga tinggi (201-300 milimeter per dasarian).
Sifat hujan pada akhir tahun 2025 secara umum berada pada kategori Bawah Normal hingga Normal. Curah hujan tertinggi tercatat sebanyak 342 milimeter per dasarian melalui pos hujan Maluk di Kabupaten Sumbawa Barat. Selain itu, Hari Tanpa Hujan terpanjang pada Dasarian III Desember 2025 terjadi selama empat hari berturut-turut di pos hujan Puyung (Kabupaten Lombok Tengah) dan pos hujan Sakra Barat (Lombok Timur).
Faktor Iklim Global Penyebab Penurunan
Fenomena penurunan curah hujan pada akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026 ini dipengaruhi oleh pelemahan faktor iklim global yang sebelumnya memperkuat pembentukan awan hujan. Salah satu faktor utama adalah indeks Indian Ocean Dipole (IOD) yang berada pada nilai minus 0,83 dan diperkirakan akan kembali menuju kondisi netral.
Ketika IOD melemah, intensitas hujan cenderung menurun karena suplai uap air dari Samudra Hindia ke wilayah tengah Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Barat, tidak sekuat fase negatif sebelumnya. Selain itu, anomali suhu permukaan laut Nino 3.4 menunjukkan indeks minus 0,77, menandakan kondisi La Nina lemah yang diprediksi bertahan hingga awal tahun 2026. La Nina lemah ini tidak memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan curah hujan dibandingkan fase La Nina moderat hingga kuat.
Meskipun angin baratan mulai mendominasi aliran massa udara dan sistem tekanan rendah muncul di sekitar perairan Indonesia, kondisi tersebut belum cukup kuat untuk memicu hujan merata dan intens di NTB. Faktor iklim global lain yang turut memengaruhi adalah Madden Julian Oscillation (MJO) yang saat ini dalam kondisi tidak aktif dan diprediksi tetap tidak aktif hingga dasarian I Januari 2026. MJO yang tidak aktif menyebabkan cuaca menjadi lebih kering, sehingga membatasi proses pembentukan awan konvektif berskala besar dan membuat fenomena hujan menjadi tidak merata serta bersifat lokal di NTB.
Waspada Banjir Lokal
Meski potensi hujan lebat cenderung menurun, Ulfah tetap mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai ancaman banjir lokal. “Meski ada pengurangan curah hujan pada akhir Desember 2025, masyarakat tetap harus mewaspadai potensi curah hujan di dasarian mendatang pada periode puncak musim hujan,” pungkasnya.
