Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan kondisi atmosfer yang dinamis, mulai dari perlambatan angin hingga topografi, menjadi faktor utama penyebab seringnya petir menyambar di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Dinamika Atmosfer dan Topografi Pemicu Utama
Kepala Stasiun Geofisika Mataram, Sumawan, menjelaskan bahwa embusan angin yang mengalami perlambatan menyebabkan awan terakumulasi menjadi kumulonimbus. “Faktor penyebab petir adalah kumulonimbus. Awan ini sangat dipengaruhi oleh angin,” ujarnya di Mataram, Senin (19/1/2026).
Sumawan menambahkan, NTB dipengaruhi oleh dinamika cuaca di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sering mengalami aktivitas siklonik akibat pengaruh cuaca dari Australia. Aktivitas siklon tropis di NTT ini menyebabkan aliran angin cenderung melambat di wilayah NTB. Kondisi ini memicu awan-awan konvektif terakumulasi lebih lama, sehingga meningkatkan potensi pembentukan awan kumulonimbus pemicu sambaran petir.
“Sambaran petir paling banyak terjadi pada periode Januari, Februari, dan Maret,” kata Sumawan.
Selain dinamika atmosfer, BMKG juga menganalisis faktor topografi turut memengaruhi tingginya intensitas sambaran petir di Kabupaten Sumbawa. Wilayah perbukitan dan pegunungan memiliki perbedaan ketinggian yang memicu perbedaan suhu, mendukung proses termodinamika yang menyebabkan awan lebih mudah terbentuk dan terakumulasi.
Sumbawa Dominasi Sambaran Petir di NTB
Data BMKG mencatat, dari tahun 2022 hingga 2025, Kabupaten Sumbawa selalu menduduki peringkat pertama di NTB sebagai daerah dengan frekuensi sambaran petir tertinggi. Jenis petir yang dominan adalah petir dari awan ke tanah atau cloud to ground (CG).
Pada tahun 2022, total sambaran petir di seluruh wilayah NTB mencapai 1,01 juta kali, dengan Kabupaten Sumbawa menyumbang 373.559 kali sambaran. Angka ini meningkat pada tahun 2023, di mana dari total 1,08 juta sambaran petir di NTB, Sumbawa mencatat 517.442 kali.
Peningkatan signifikan terjadi pada tahun 2024, dengan total sambaran petir di NTB mencapai 2,63 juta kali. Kabupaten Sumbawa masih menjadi penyumbang tertinggi dengan 1,64 juta kali sambaran petir. Sementara itu, pada tahun 2025, dari 1,15 juta total sambaran petir di NTB, Sumbawa menyumbang 705.145 kali.
“Berdasarkan pendataan yang kami lakukan di tahun 2025, wilayah Kabupaten Sumbawa dengan aktivitas petir tertinggi adalah Utan, Labuan Badas, dan Moyo Hilir,” ungkap Sumawan.
Imbauan Kewaspadaan Cuaca Ekstrem
BMKG mengimbau masyarakat untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem yang umum terjadi saat pancaroba atau peralihan musim. Cuaca ekstrem tidak hanya membawa hujan lebat dan angin kencang, tetapi juga dapat disertai sambaran petir yang berbahaya.
