Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mencatat setidaknya 20 bangunan mengalami kerusakan akibat gempa bumi Magnitudo 6,2 yang mengguncang wilayah Pacitan, Jawa Timur, pada Jumat (6/2) dini hari. Selain kerusakan infrastruktur, gempa tersebut juga menyebabkan puluhan warga mengalami luka-luka.
Dampak Kerusakan dan Korban Luka di Bantul
Sekretaris Daerah (Sekda) Bantul, Agus Budi Raharja, mengungkapkan bahwa data kerusakan ini berdasarkan laporan dari Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD setempat. “Dampak yang terjadi di Bantul, karena gempa Magnitudo 6.2 berdasarkan laporan dari Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD itu ada 20 titik untuk kerusakan infrastruktur,” kata Agus di Bantul, Jumat.
Agus merinci, bangunan yang terdampak gempa M 6,2 tersebut meliputi 11 unit rumah penduduk, dua tempat ibadah, empat titik pada gedung perkantoran pemerintah termasuk kantor Samsat Bantul, dan satu tempat parkir Palang Merah Indonesia (PMI) Bantul. Ia menambahkan, sebagian besar fasilitas tersebut mengalami kerusakan ringan, “kecuali kantor Samsat Bantul yang mengalami kerusakan cukup parah.”
Selain itu, dua fasilitas pendidikan juga dilaporkan mengalami kerusakan cukup berat, yaitu Sekolah Dasar (SD) Jetis dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Jetis. Gempa bumi ini juga mengakibatkan 36 korban luka yang tersebar di beberapa kapanewon (kecamatan) wilayah Bantul. “Korban luka terdata sebanyak 36 orang, dengan menjalani rawat inap delapan orang, sementara sisanya yang 28 orang menjalani rawat jalan,” jelas Agus.
Koordinasi dan Validasi Data Gempa
Menyikapi dampak gempa, Pemerintah Kabupaten Bantul segera menggelar rapat koordinasi dengan sejumlah pihak terkait. Gempa di Pacitan, Jawa Timur, terjadi pada Jumat (6/2) pukul 01.06 WIB. Agus menjelaskan bahwa Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) awalnya mendeteksi gempa dengan magnitudo 6,5.
“Lalu update koreksi magnitudo 6.4 terus datanya dikumpulkan semua dan analisis dari sensor, jadi fiks magnitudo 6.2. Ini memvalidkan data-data atas sensor yang dimiliki dengan durasi gempa bumi semalam selama 10 detik,” terang Agus. Ia menambahkan bahwa perbedaan data magnitudo pada awal kejadian adalah hal yang biasa, karena BMKG dan pemerintah daerah harus memberikan informasi berdasarkan data sensor awal yang kemudian dianalisis lebih lanjut.
Gempa M 6,2 tersebut diketahui memiliki kedalaman 58 kilometer di selatan Pacitan. Setelah gempa utama, tercatat 21 gempa susulan hingga siang hari. “Setelah itu terjadi gempa susulan sampai dengan siang ini sebanyak 21 kali, dan trennya menurun. Insya Allah semoga aman. Jadi, terjadi gempa besar selalu diikuti dengan gempa susulan yang kecil,” pungkas Agus.
