Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat fenomena menarik pada September 2025: tingkat kemiskinan perdesaan lebih rendah dibandingkan perkotaan. Data BPS menunjukkan, tingkat kemiskinan di wilayah perkotaan mencapai 11,70 persen, sementara di perdesaan hanya 11,02 persen.
Kepala BPS NTB Wahyudin menjelaskan, kondisi ini disebabkan oleh karakteristik pekerjaan penduduk desa yang mayoritas bergerak di sektor primer. “Penduduk miskin desa bekerja di sektor primer, seperti pertanian, perdagangan, dan sebagian industri rumah tangga. Mereka bisa bekerja sepanjang tahun,” ujar Wahyudin di Mataram, Kamis (5/2/2026).
Ia menambahkan, pada tahun 2025, petani dan pekebun di desa dapat menggarap lahan lebih lama berkat fenomena La Nina yang menyebabkan “kemarau basah”. Curah hujan yang lebih sering mendukung aktivitas pertanian dan perkebunan, sehingga memberikan penghasilan berkelanjutan bagi penduduk desa.
Sebaliknya, di perkotaan, Wahyudin menyoroti keterbatasan lahan pertanian akibat alih fungsi. Penduduk kota cenderung bergantung pada sektor transportasi dan perdagangan. “Itu yang menyebabkan kemiskinan penduduk kota agak lebih tinggi sedikit daripada pedesaan. Di pedesaan, mereka menikmati pekerjaan apalagi sekarang musim hujan,” kata Wahyudin.
Program Desa Berdaya dan Harapan Pengentasan Kemiskinan
Lebih lanjut, Wahyudin juga menyinggung program Desa Berdaya yang digulirkan Pemerintah Provinsi NTB untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem. Program ini baru berjalan mulai Juni 2026, sehingga dampaknya diperkirakan baru akan terlihat pada akhir tahun ini.
BPS NTB berharap daftar sasaran penduduk miskin ekstrem by name by address di 40 desa, yang mencakup sekitar 7.250 kepala keluarga, dapat dirilis pada pertengahan Februari 2026. “Dampak dari intervensi program Desa Berdaya bisa terlihat sekitar September 2026 mendatang,” tegas Wahyudin.
Tren Penurunan Angka Kemiskinan NTB
Secara keseluruhan, BPS mencatat jumlah penduduk miskin di NTB pada September 2025 sebanyak 637,18 ribu orang. Angka ini menunjukkan penurunan signifikan, yakni 17,39 ribu orang dibandingkan Maret 2025, dan menurun 21,42 ribu orang dibandingkan September 2024.
Persentase penduduk miskin pada periode yang sama tercatat sebesar 11,38 persen. Angka ini juga menurun 0,40 persen poin terhadap Maret 2025 dan menurun 0,53 persen poin terhadap September 2024, menunjukkan tren positif dalam upaya pengentasan kemiskinan di NTB.

