Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) mengeklaim populasi rusa di kawasan Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih relatif stabil. Klaim ini disampaikan di tengah kembali maraknya kasus perburuan liar yang menyasar satwa mangsa utama komodo tersebut.
Kepala BTNK Hendrikus Rani Siga menjelaskan, kestabilan populasi rusa didasarkan pada hasil kajian yang dilakukan bersama mitra konservasi Komodo Survival Program. Namun, ia belum merinci jumlah pasti populasi rusa di kawasan tersebut.
“Terkait dengan populasi rusa saat ini hasil kajian bersama yang kami lakukan bersama mitra Komodo Survival Program, populasi rusa 10 tahun terakhir ini memang relatif stabil,” kata Hendrikus yang akrab disapa Hengki pada Sabtu (20/12/2025).
Menurut Hengki, populasi rusa di TN Komodo memang mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Meski demikian, secara umum tren populasinya tidak menunjukkan penurunan signifikan. Kondisi serupa juga terjadi pada populasi komodo.
“Bahwa ada fluktuasi tahunan (rusa) itu ya tetapi secara umum relatif stabil. Sama juga dengan komodo itu juga relatif stabil tetapi ada tahun-tahun tertentu tetap mengalami penurunan juga itu sebab adaptasi terhadap alam,” jelasnya.
Hengki juga menepis anggapan bahwa maraknya perburuan liar mengindikasikan kinerja BTNK tidak maksimal. Ia menegaskan, luasnya kawasan TN Komodo membuat potensi perburuan liar akan selalu ada. Penangkapan pelaku, menurutnya, justru menjadi bukti bahwa pengawasan terus berjalan.
“TN Komodo ini kawasan yang luas sehingga potensi perburuan liar selalu ada. Penangkapan pelaku menunjukkan kami bekerja,” ujarnya.
Rusa diketahui tersebar di berbagai titik di kawasan TN Komodo, seperti Pulau Padar dan Long Pink Beach. Di lokasi-lokasi wisata tersebut, rusa-rusa cenderung jinak dan terbiasa dengan kehadiran manusia, kerap terlihat berbaur di sekitar jalur kunjungan wisatawan.
Sebelumnya, delapan pria asal Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), terlibat dalam aksi perburuan rusa menggunakan senjata api di Pulau Komodo. Insiden ini berujung pada baku tembak dengan tim gabungan pada Minggu (14/12/2025) dini hari.
Dalam kejadian tersebut, tiga pelaku berhasil ditangkap, sementara lima orang lainnya melarikan diri dengan menceburkan diri ke laut. Salah satu buronan diketahui berinisial MS, yang disebut sebagai pemimpin kelompok perburuan.
