Bupati Tanah Datar Eka Putra mengumumkan bahwa pembangunan hunian sementara (huntara) bagi korban banjir dan tanah longsor di Nagari Bungo Tanjung, Kecamatan Batipuh, Sumatra Barat, telah mencapai 40 persen. Pernyataan ini disampaikan seiring berakhirnya masa tanggap darurat bencana di wilayah tersebut.

Eka Putra menjelaskan, dari usulan awal pemerintah daerah sebanyak 555 unit huntara, setelah melalui proses verifikasi, hanya 129 unit yang dinyatakan lolos. Hal ini mempertimbangkan ketersediaan lahan yang telah disiapkan oleh nagari-nagari terdampak banjir Sumatra. Setelah Nagari Bungo Tanjung, pembangunan huntara akan bergeser ke Kecamatan Batipuh Selatan.

Terkait hunian tetap (huntap), Bupati Eka Putra menegaskan bahwa pembangunan akan diupayakan dipercepat. Prioritas diberikan kepada rumah-rumah yang hanyut, hancur, atau tertimbun material banjir bandang. Berdasarkan data dari Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Perkim LH), tercatat 34 unit rumah mengalami kerusakan parah akibat diterjang banjir bandang.

Masa tanggap darurat bencana di Kabupaten Tanah Datar secara resmi berakhir pada Sabtu, 27 Desember 2025. Selanjutnya, wilayah ini memasuki fase transisi darurat pemulihan pascabencana yang akan berlangsung hingga akhir Juli 2026. Sebelumnya, Tanah Datar telah menetapkan hingga tiga kali perpanjangan masa tanggap darurat untuk penanganan dampak banjir Sumatra.

  Surat Aceh ke PBB: Alarm Kemanusiaan, Bukan Ancaman Kedaulatan Bangsa

Ketua DPRD Tanah Datar, Anton Yondra, turut menyampaikan apresiasi atas kolaborasi semua pihak yang telah bekerja sama, termasuk para donatur yang membantu masyarakat dan penanganan pascabencana alam di Tanah Datar. “Alhamdulillah, kita sangat mengapresiasi penanganan pasca bencana di Tanah Datar, kita melihat bagaimana pemerintah daerah, DPRD, Forkopimda dan unsur lainnya bersinergi mengatasi bencana bersama,” ucap Anton Yondra.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD dr. Ermon Reflin melaporkan bahwa jumlah pengungsi terus berkurang. Dari hampir 6.000 jiwa pada awalnya, kini tersisa 413 jiwa yang dipantau di dua kecamatan dan sebagian besar sudah mandiri.

50% LikesVS
50% Dislikes