Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, yang dikenal sebagai lumbung pangan nasional, kini menghadapi dilema serius. Serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) atau hama tikus yang semakin masif memaksa sebagian besar petani di wilayah tersebut mengambil langkah ekstrem, yakni menggunakan jebakan listrik untuk melindungi persemaian padi mereka. Praktik berbahaya ini terus berlanjut, meskipun telah terbukti memakan korban jiwa.
Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Sutatang, mengungkapkan bahwa penggunaan aliran listrik dari genset maupun aki menjadi pilihan utama petani saat ini. Langkah ini diambil guna menghindari risiko gagal tanam akibat serangan tikus yang merusak bibit padi di tahap persemaian.
“Sebagian besar petani di Indramayu masih menggunakan jebakan tikus yang dialiri listrik. Akibat serangan tikus sebelumnya, sejumlah petani harus melakukan semai ulang karena bibit mereka habis dirusak,” tutur Sutatang pada Rabu (21/1).
Tragedi Maut Akibat Jebakan Listrik di Sawah
Penggunaan jebakan listrik di sawah telah meninggalkan catatan kelam di Indramayu. Pada Oktober 2025, dua orang petani asal Desa Baleraja, Kecamatan Gantar, Tatang (46) dan Suwandi (45), tewas tersengat listrik di areal sawah mereka. Tak hanya manusia, hewan ternak pun menjadi korban. Pada November 2025, seekor kerbau milik warga di Desa Mekarjaya mati tersengat aliran listrik serupa. Insiden ini sempat menarik perhatian publik secara luas hingga Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, turun tangan memantau kondisi di lapangan.
Bupati Indramayu Imbau Penghentian Segera
Menyikapi fenomena yang membahayakan nyawa ini, Bupati Indramayu Lucky Hakim mengeluarkan imbauan keras melalui kanal media sosial resminya. Ia meminta para petani segera menghentikan penggunaan jebakan listrik karena melanggar aturan dan sangat berbahaya.
“Saya mengimbau kepada seluruh petani di Indramayu untuk tidak memasang jebakan listrik untuk tikus di sawah-sawah. Itu jelas melanggar aturan dan berbahaya sekali. Jangankan manusia, kerbau saja sampai mati kena listrik,” tegas Lucky Hakim.
Secara khusus, Bupati juga mengingatkan mahasiswa Universitas Padjajaran (Unpad) yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di wilayah Indramayu agar waspada saat turun ke areal persawahan guna menghindari insiden yang tidak diinginkan.
Dilema Solusi Alternatif dan Harapan Petani
Sutatang mengakui bahwa petani sebenarnya memiliki opsi lain seperti penggunaan pagar plastik fiber atau plastic pinian. Namun, metode ini dianggap kurang efektif dan memakan biaya tinggi.
“Untuk sawah seluas 100 bata, biaya pembelian fiber bisa mencapai Rp500 ribu. Itu pun tikus terkadang masih bisa menerobos masuk,” keluh Sutatang.
Di sisi lain, upaya pengendalian hayati melalui pelepasan predator alami seperti ular dan burung hantu dinilai belum mampu menekan populasi tikus yang meledak. KTNA berharap pihak terkait dan pemerintah daerah dapat duduk bersama untuk merumuskan strategi pembasmian tikus yang aman, efektif, dan tidak membahayakan nyawa petani maupun masyarakat umum.
