Pemerintah Kabupaten Kediri secara resmi menggelar soft opening Museum Sri Aji Joyoboyo yang berlokasi di Jalan Totok Kerot, Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, pada Kamis (25/12/2025). Pembukaan ini memanfaatkan momentum libur sekolah, Natal, dan Tahun Baru (Nataru).

Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana, yang akrab disapa Mas Dhito, menegaskan bahwa operasional museum saat ini masih dalam tahap uji coba. Evaluasi menyeluruh akan dilakukan sebelum menuju tahap grand opening. Ia menekankan pentingnya penyempurnaan alur cerita dan narasi sejarah agar lebih kuat, runtut, dan mudah dipahami masyarakat.

Mas Dhito Soroti Penyempurnaan Narasi Sejarah

Mas Dhito mengungkapkan beberapa catatan penting untuk perbaikan museum. “Ini masih soft opening. Tadi masih ada beberapa catatan. Untuk menuju grand opening, saya minta alurnya disempurnakan lagi, ceritanya juga harus didiskusikan dengan teman-teman sejarawan dan budayawan,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami sejarah panjang Kabupaten Kediri yang telah berlangsung selama 1.221 tahun. Narasi museum harus mampu menggambarkan perjalanan kehidupan masyarakat Kediri sejak masa lampau, mulai dari aktivitas keseharian, pengelolaan sumber air, pengolahan pangan, pembangunan bata, hingga masuknya era industri gula di wilayah Badas.

  Di Balik Pesona Gili Trawangan: Napas Pariwisata Bergantung pada Tabung Gas LPG

“Karena Kabupaten Kediri ini tidak lepas dari cerita masa lampau sejak 1.221 tahun lalu. Maret, tepatnya 25 Maret tahun depan, usia Kabupaten Kediri genap 1.222 tahun. Itu usia yang sangat tua,” lanjut Mas Dhito.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga mengungkapkan rencana untuk menginstruksikan Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri agar museum ini menjadi salah satu destinasi wajib kunjungan bagi pelajar. “Anak-anak sekarang jangan hanya membuka media sosial. Mereka harus tahu akar budaya mereka. Mereka lahir, bernapas, dan hidup di tanah Kabupaten Kediri, salah satu wilayah tertua di Jawa Timur,” tegasnya.

Koleksi dan Pengembangan Museum ke Depan

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Mustika Prayitno Adi, menyampaikan bahwa pelaksanaan soft opening berjalan lancar meskipun masih terdapat berbagai keterbatasan. Saat ini, museum baru menampilkan sekitar 50 artefak dari total 190 koleksi yang dimiliki.

“Kami baru memamerkan sekitar 50 artefak. Padahal total koleksi mencapai 190 artefak. Saat ini masih fokus arkeologika, padahal ke depan museum ini juga akan menampilkan koleksi etnologika, termasuk kesenian seperti Tiban, Wayang Kucil, Jaranan Jowo, dan lainnya,” jelas Mustika.

  Gubernur Khofifah: "Angin Surga" bagi Muslimat NU, BPN Jatim Percepat Sertifikasi Aset Organisasi

Mustika menambahkan, kawasan Museum Sri Aji Joyoboyo memiliki luas hampir lima hektare. Namun, pemanfaatannya masih terbatas dan akan terus dikembangkan. Ke depan, Pemerintah Kabupaten Kediri berencana mengoptimalkan ruang pamer arkeologika dan etnologika, ruang pamer temporer, serta melakukan penyempurnaan interior dan eksterior museum.

Pada tahun 2026, Pemkab Kediri juga menargetkan pembangunan fasad depan museum serta optimalisasi amphitheater yang akan difungsikan sebagai ruang pentas seni rutin guna mewadahi kreativitas dan bakat generasi muda. “Itu menjadi target tahun depan, termasuk pembangunan fasad dan optimalisasi amphitheater agar bisa dimanfaatkan secara maksimal,” ujarnya.

Untuk sementara waktu, Museum Sri Aji Joyoboyo dibuka secara gratis bagi masyarakat dan beroperasi setiap hari, kecuali hari Senin. Ke depan, museum ini diarahkan menjadi destinasi culture tourism yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat edukasi dan pelestarian budaya, tetapi juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah serta meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Culture tourism ini memberi banyak manfaat, mulai dari pelestarian budaya, edukasi, pengamanan benda purbakala, hingga dampak ekonomi yang pada akhirnya berkontribusi pada PAD,” tandas Mustika Prayitno Adi.

50% LikesVS
50% Dislikes