Pemerintah Kabupaten Trenggalek menggelar bedah buku “Reset Indonesia” yang diikuti ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Amhitheater Hutan Kota Trenggalek pada Senin (22/12/2025). Kegiatan ini disebut Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin sebagai ajang refleksi diri bagi pemerintah daerah dan ASN.
Buku “Reset Indonesia” merupakan karya kolaborasi empat jurnalis lintas generasi, yakni Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu. Mochamad Nur Arifin, yang akrab disapa Mas Ipin, menegaskan bahwa buku tersebut bukan kritik terhadap pemerintah pusat, melainkan ruang bagi pemerintah daerah untuk mengkritisi diri sendiri.
“Yang paling bertanggung jawab membawa perubahan di Kabupaten Trenggalek salah satunya adalah pemerintahnya. Maka ASN kita ajak untuk membuka cakrawala dan berbenah ke arah yang lebih baik,” ujar Mas Ipin, Senin (22/12/2025).
Ia menambahkan, kemampuan refleksi dan evaluasi diri menjadi kunci utama agar roda pemerintahan dapat berjalan ke arah yang lebih adil dan berkelanjutan. Dari keseluruhan gagasan yang dipaparkan dalam buku, Mas Ipin mengaku paling sepakat dengan konsep pembangunan ekonomi yang sejalan dengan kelestarian lingkungan.
“Dari keseluruhan buku, saya paling setuju dengan gagasan bagaimana ekonomi yang baik itu harus sejalan dengan ekologi. Itu juga yang menjadi konsentrasi Trenggalek,” tuturnya.
Meski demikian, Mas Ipin tidak sepenuhnya sepakat dengan seluruh gagasan dalam buku “Reset Indonesia”, khususnya terkait pandangan pemanfaatan air yang sepenuhnya untuk kepentingan masyarakat. Menurutnya, diperlukan pendekatan yang lebih realistis agar keadilan sosial tetap sejalan dengan keberlanjutan fiskal dan lingkungan.
Ia merekomendasikan agar kegiatan bedah buku semacam ini terus dilakukan, terutama bagi para pemegang amanah pemerintahan. “Orang yang tidak maju adalah orang yang gagal mengkritik dirinya sendiri, atau dalam bahasa Islamnya gagal melakukan muhasabah,” pungkasnya.
