SURABAYA – Sekitar 3.000 hektare lahan pertanian padi di Jawa Timur mengalami puso atau gagal panen akibat cuaca ekstrem yang melanda sejumlah daerah. Meski demikian, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (KP) Provinsi Jawa Timur memastikan bahwa kondisi ini tidak akan mengganggu produksi padi secara keseluruhan untuk tahun 2025.
Kepala Dinas Pertanian dan KP Provinsi Jawa Timur, Heru Suseno, menjelaskan bahwa puso terjadi secara tersebar, dengan sebagian besar insiden berlangsung pada Oktober 2025, saat tanaman padi memasuki masa panen. “Meski puso kami dipastikan tidak mengganggu produksi padi tahun 2025,” kata Heru di Surabaya, Rabu (14/1).
Heru menambahkan, puso murni disebabkan oleh banjir. Namun, ia menekankan bahwa tidak semua genangan air berdampak signifikan pada lahan padi. “Kalau banjir, tidak semuanya melanda sawah. Ada hujan deras, besoknya sudah surut, sehingga tidak banyak mengganggu tanaman,” jelasnya.
Pihaknya mengakui bahwa cuaca ekstrem belakangan ini menjadi perhatian serius. Dinas Pertanian dan KP Jatim masih terus melakukan pendataan lanjutan untuk mengidentifikasi luas puso yang terjadi pada periode Desember 2025 hingga Januari 2026, mengingat curah hujan yang masih tinggi. “Nanti kami update lagi datanya. Januari ini curah hujan tinggi, jadi kami lihat betul mana yang benar-benar puso dan mana yang tidak,” ujarnya.
Heru menegaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur siap memberikan bantuan kepada para petani jika ditemukan puso baru akibat cuaca ekstrem. Bantuan tersebut mencakup penggantian benih dan fasilitasi tanam ulang, yang akan dikoordinasikan dengan Kementerian Pertanian. “Kalau ada puso, pasti ada penggantian benih. Kami komunikasi dengan Kementerian Pertanian. Petani jangan khawatir, bisa tanam kembali,” tegas Heru.
Di sisi lain, Heru optimistis produksi padi Jawa Timur pada tahun 2026 justru berpotensi meningkat. Optimisme ini didasarkan pada data luas tanam periode Oktober-Desember 2025 yang tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

