Demam aksesori buatan tangan kini tak lagi sekadar pengisi waktu luang bagi warga Surabaya. Tren Chunky Bag, tas berbahan benang raksasa, terbukti memiliki nilai ekonomi tinggi dan membuka peluang usaha baru bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Potensi ini diperlihatkan dalam sebuah lokakarya yang digelar oleh Rumah Literasi Digital (RLD) bersama EXCOTEL Design Hotel Surabaya pada Minggu (8/3/2026). Sejumlah peserta antusias belajar memproduksi tas estetik tersebut tanpa bantuan jarum atau mesin, murni mengandalkan ketangkasan jemari.
Teknik Merajut Tanpa Alat, Cepat Hasilkan Cuan
Teknik yang dikenal sebagai hand knitting ini mengubah gulungan benang tebal menjadi tas modis yang diminati pasar fesyen. Nadia Putri Nilamsari, pengrajin di balik Handmade ByLin sekaligus mentor dalam lokakarya tersebut, menjelaskan bahwa teknik ini menuntut konsistensi tinggi.
“Tantangan terbesarnya ada pada menjaga alur dan putaran benang. Sedikit saja meleset, bentuk tas akan langsung berubah atau tidak rapi,” ungkap Nadia di sela kesibukannya mengarahkan peserta.
Meski membutuhkan ketelitian ekstra bagi pemula, Nadia menjamin teknik ini sangat mudah dikuasai setelah prinsip dasarnya dipahami. Efektivitas produksinya pun tergolong cepat. Untuk sebuah karya kecil, hanya dibutuhkan waktu satu hingga dua jam. Seorang pengrajin mahir bahkan mampu menuntaskan empat produk sekaligus dalam sehari.
Ambisi Nadia: Sebarkan Keterampilan, Lahirkan Kemandirian
Bagi Nadia, yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan swasta, merajut bukan hanya hobi, melainkan insting bisnis yang menjanjikan. Ia melihat celah pasar yang besar di lingkungan sekolah, komunitas, hingga perkantoran.
“Saya berambisi menyebarkan keterampilan ini lebih luas lagi. Rencananya saya ingin membuka kelas merajut untuk umum agar masyarakat punya alternatif kegiatan yang menghasilkan uang secara mandiri,” tuturnya.
Dukungan Sektor Perhotelan untuk Ekonomi Lokal
Dukungan terhadap geliat ekonomi kreatif ini juga datang dari sektor perhotelan. Marketing Communications EXCOTEL Surabaya, Pinky Monica, menilai kolaborasi dengan pelaku UMKM adalah langkah strategis untuk menghidupkan ekosistem bisnis lokal.
“Kami sangat antusias mendukung program semacam ini. Kemajuan UMKM akan berdampak langsung pada penguatan ekonomi daerah. Selain itu, kegiatan kreatif ini memberi identitas dan warna baru bagi agenda di hotel kami,” kata Pinky.
Sinergi antara komunitas digital, pelaku usaha, dan sektor akomodasi ini diharapkan mampu melahirkan unit usaha baru yang kompetitif. Ke depan, produk Chunky Bag asal Surabaya ini ditargetkan mampu bersaing di pasar fesyen nasional, sekaligus membuktikan bahwa kemandirian finansial bisa dimulai dari anyaman tangan di rumah.
