Di Kabupaten Batang Hari, Jambi, sosok Zulva Fadhil memegang dua amanah besar: Bunda PAUD dan Bunda Literasi. Peran ini bukan sekadar gelar, melainkan jalan hidup yang ia maknai sebagai upaya “memanusiakan manusia”, sebuah filosofi yang berakar kuat dari perjalanan panjangnya sejak kecil.

Akar Pendidikan dari Keluarga dan Pengalaman Hidup

Lahir di sebuah rumah sederhana di Kota Jambi pada 7 Mei 1980, Zulva kecil tumbuh sebagai anak yang gemar membaca. Majalah Bobo, tabloid anak-anak, hingga koleksi majalah lama yang masih ia simpan hingga kini, menjadi jendela baginya untuk menjelajahi dunia. Hobi membaca ini juga menjadi jembatan komunikasi dengan sang ayah, yang disebutnya sebagai sahabat diskusi sejak dini.

Zulva menamatkan pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Jambi. Namun, perjalanan kariernya dimulai dari titik terendah, sebagai kasir supermarket milik orang tuanya. “Orang tua saya ingin mendidik anaknya menapaki tangga karier dari paling bawah,” tutur Zulva. Pengalaman ini justru membentuknya, mengajarkan literasi numerasi praktis, kepemimpinan, dan empati saat memimpin karyawan yang mayoritas laki-laki. Fondasi inilah yang kelak menjadi bekal kepemimpinannya.

  Gubernur Mahyeldi Serukan Persatuan di Hari Bela Negara ke-77, Soroti Tantangan Bencana dan Geopolitik

Ketika mengikuti suami yang menjabat camat di sebuah desa, Zulva bersentuhan langsung dengan masyarakat. Ia memahami denyut nadi kehidupan desa dan membangun kemampuan untuk menjadi teladan bagi perempuan di ruang publik. “Di tengah masyarakat desa saya banyak belajar memanusiakan manusia,” ujarnya, mengenang masa-masa tersebut.

PAUD: Investasi Jangka Panjang untuk Generasi Tangguh

Bagi Zulva, pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah investasi paling panjang dan paling penting. Ia melihat perhatian besar pemerintah pusat terhadap PAUD harus disambut serius di tingkat daerah. “Kalau kita ingin memetik buah yang baik, maka bibitnya harus dirawat sejak dini,” tegasnya.

Sebagai Bunda PAUD Kabupaten Batang Hari, Zulva bersama sang suami memilih bergerak langsung. Ia turun ke lapangan, mengadvokasi para guru, mendatangi desa-desa, dan memimpin gerakan bersama berbagai pemangku kepentingan. Target utamanya adalah peningkatan kualitas guru PAUD. Pada tahun 2025, Batang Hari menjadi satu-satunya kabupaten di Provinsi Jambi yang memberikan program beasiswa khusus untuk para guru PAUD, sebuah inisiatif yang disebut Zulva sebagai “amal jariyah pendidikan” yang manfaatnya akan dirasakan anak-anak sepanjang hayat.

  Ledakan Tabung Gas Guncang Warkop di Makassar, Polisi Pastikan Bukan Aksi Teror

Isu penting lainnya adalah peran ayah. Terinspirasi dari pengalaman masa kecilnya dan fenomena fatherless di masyarakat, Zulva menginisiasi aturan agar ayah turut hadir saat pengambilan rapor anak, menghadiri posyandu, hingga sesi parenting singkat. “Anak adalah tanggung jawab bersama. Ayah harus hadir,” tegasnya, menekankan pentingnya keterlibatan kedua orang tua.

Kolaborasi dengan Tanoto Foundation dan Inovasi Edukasi

Zulva juga menjalin kerja sama erat dengan berbagai pihak untuk isu pendidikan anak usia dini, salah satunya Tanoto Foundation. Ia masih mengingat momen bertahun-tahun lalu saat pertama kali melihat program-program Tanoto Foundation hadir nyata di lapangan. Baginya, Tanoto Foundation memberikan dua manfaat utama: penguatan kapasitas sebagai Bunda PAUD dan Bunda Literasi, serta menjadi jembatan kolaborasi yang menggerakkan seluruh ekosistem pendidikan.

Melalui pelatihan, pendampingan, dan berbagai kegiatan literasi-numerasi, Zulva merasa mendapat banyak perspektif baru tentang pengasuhan, pembelajaran, dan manajemen komunitas PAUD. Program-program Tanoto Foundation juga mendorong kolaborasi lintas sektor, melibatkan pemerintah daerah, sekolah, masyarakat, hingga orang tua. “Harapan saya, kolaborasi ini bukan momentum sesaat, tetapi terus melibatkan semua unsur masyarakat,” katanya.

  Rektor USK: "Ini Momentum Bangun Aceh Lebih Tangguh," Dukung Penuh Satgas Pemulihan Bencana Sumatra

Salah satu inovasi kreatif Zulva yang menarik perhatian adalah cara mensosialisasikan Program 13 Tahun Wajib Belajar. Ia mengemasnya melalui pendekatan mendongeng, bermain peran, lagu edukatif, pojok baca bergerak, dan aktivitas menarik lainnya. Pendekatan ini membuat anak-anak antusias, sementara orang tua dan guru mendapatkan pemahaman yang lebih jelas tentang pentingnya PAUD. “Bahasa kepada anak itu harus sederhana dan berbasis pengalaman langsung,” jelasnya.

Dukungan dari para guru, pegiat literasi, dan berbagai komunitas pendidikan semakin mengembangkan program ini. Mengutip kalimat bijak Tan Malaka, “Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan,” Zulva menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab semua pihak. Ia berharap anak-anak Batang Hari dan Indonesia tumbuh menjadi generasi yang adaptif, berakhlak baik, kreatif, inovatif, dan tangguh.

50% LikesVS
50% Dislikes