Di pagi yang cerah di Kabupaten Morowali, puluhan siswa kelas satu sekolah menengah tampak antusias mengelilingi tumpukan sampah yang telah dipilah. Bukan untuk dibuang, melainkan untuk dipelajari. Pemandangan ini menjadi bagian dari upaya PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) dalam menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini.

Momentum Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026, yang diperingati setiap tanggal 21 Februari, menjadi titik tolak bagi PT Vale untuk kembali turun langsung ke sekolah melalui program “Vale Goes to School”. Perusahaan pertambangan nikel yang merupakan bagian dari holding industri pertambangan Indonesia, MIND ID, ini mengunjungi SMPN 2 Bahodopi dan SMPN 3 Bungku Timur pada 10-11 Februari 2026.

Misi program ini sederhana namun berdampak besar: mengubah cara generasi muda memandang sampah. Dalam beberapa tahun terakhir, Morowali telah berkembang pesat sebagai kawasan industri berbasis pertambangan dan pengolahan nikel. Pertumbuhan penduduk dan peningkatan aktivitas ekonomi ini turut berdampak pada peningkatan volume sampah rumah tangga dan luas kawasan permukiman.

Secara nasional, masalah sampah masih menjadi tantangan serius. Data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan bahwa produksi sampah di Indonesia mencapai puluhan juta ton per tahun, dengan komposisi terbesar berasal dari sampah organik rumah tangga. HPSN sendiri lahir untuk memperingati tragedi longsor sampah di TPA Leuwigajah pada tahun 2005 serta mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah.

  Riset Ungkap 66,8 Persen Sampah Kota Batu Organik, Desa Oro-Oro Ombo Jadi Pionir Pengelolaan Zero Waste

Edukasi Interaktif dan Kunjungan Lapangan

Di dalam kelas, siswa tidak hanya mendengarkan ceramah. Tim PT Vale menyajikan materi tentang konsep Kurangi, Gunakan Kembali, Daur Ulang (3R), jenis-jenis sampah, dan dampak jangka panjang polusi terhadap tanah, air, dan kesehatan manusia melalui pendekatan visual dan interaktif. Namun, pengalaman yang paling berkesan terjadi di luar kelas.

Para siswa diundang untuk mengunjungi TPS3R Onepute Jaya, sebuah fasilitas pengolahan limbah yang dibangun oleh PT Vale dan dikelola oleh LPM Valone Jaya. Di sana, konsep 3R yang sebelumnya hanya ada di buku teks berubah menjadi proses nyata yang dapat disentuh dan diamati.

Para siswa menyaksikan langsung proses pemilahan antara sampah organik, anorganik, dan sisa sampah. Sampah organik diolah menjadi kompos untuk memperkaya tanah, sementara plastik, kertas, dan logam yang dapat dijual dipisahkan untuk didaur ulang. Salah satu sesi yang paling menarik perhatian adalah demonstrasi budidaya maggot menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF). Metode ini terbukti efektif mempercepat penguraian sampah organik sekaligus menghasilkan pakan ternak berprotein tinggi yang memiliki nilai ekonomi.

  Pemkab Sigi Raih Peringkat Teratas Indeks Kualitas Lingkungan Hidup di Sulawesi Tengah, Lampaui Target Nasional

Bagi para siswa, melihat “sampah” berubah menjadi sesuatu yang bernilai menjadi pengalaman yang membuka perspektif baru. “Anak-anak jadi lebih memahami perbedaan sampah organik dan anorganik. Pengalaman melihat langsung prosesnya membuat pembelajaran jauh lebih bermakna,” ujar Misdar, Kepala SMPN 2 Bahodopi.

Komentar serupa disampaikan Nurfan, Kepala SMPN 3 Bungku Timur. “Melihat langsung proses pengolahan sampah membuat mereka lebih peduli.”

Komitmen PT Vale terhadap Lingkungan

Sebagai perusahaan tambang nikel yang telah beroperasi lebih dari lima dekade di Indonesia dan dikenal sebagai pelopor praktik pertambangan berkelanjutan, PT Vale menempatkan aspek lingkungan sebagai salah satu pilar utama operasionalnya. Di situs resminya, perusahaan menegaskan komitmen terhadap praktik pertambangan yang bertanggung jawab, perlindungan keanekaragaman hayati, serta penguatan ekonomi sirkular di wilayah operasional.

Nur Rasyidah Lacinu, Environment Engineer PT Vale, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial HPSN. “Pengelolaan sampah adalah tanggung jawab bersama. Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan generasi muda memiliki pengetahuan dan kesadaran untuk mengambil peran dalam menjaga lingkungan,” ujarnya.

  Pemkab Sigi Gandeng Komda Lansia Tingkatkan Kesejahteraan dan Kesehatan Lansia di Daerah

Program edukasi ini juga sejalan dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat yang selama ini dikembangkan perusahaan, di mana pembangunan infrastruktur seperti TPS3R tidak hanya berhenti pada aspek fisik, tetapi juga diiringi penguatan kapasitas komunitas lokal. Untuk memastikan pesan tidak berhenti di ruang kelas, siswa diajak mengikuti “games pilah sampah”, kompetisi sederhana yang menguji kecepatan dan ketepatan mereka dalam mengelompokkan jenis sampah. Suasana riuh penuh tawa menjadi penanda bahwa pembelajaran lingkungan tidak harus selalu kaku.

Lebih jauh, PT Vale berharap kegiatan ini memicu lahirnya inisiatif lanjutan di sekolah, seperti pembentukan bank sampah, kelompok peduli lingkungan, hingga program rutin pengelolaan sampah berbasis siswa. Karena perubahan perilaku, sebagaimana diyakini perusahaan, tidak lahir dari kebijakan semata, melainkan dari kebiasaan yang dibentuk sejak dini. Di tangan para siswa inilah, masa depan pengelolaan sampah Morowali perlahan dibangun—dimulai dari satu langkah sederhana, memilah sebelum membuang.

50% LikesVS
50% Dislikes