Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, tengah menguji coba sistem pengolahan sampah organik inovatif bernama “tempah dedoro”. Inisiatif ini bertujuan untuk mendorong penanganan sampah secara mandiri oleh masyarakat, khususnya sampah organik.
Uji Coba Sukses di Marong Karang Tatah
Kepala DLH Kota Mataram, H Nizar Denny Cahyadi, mengungkapkan bahwa uji coba “tempah dedoro” telah dilaksanakan di Lingkungan Marong Karang Tatah, Mataram. Program ini telah berjalan selama kurang lebih dua bulan.
“Di lingkungan tersebut, kami sudah membuatkan 25 unit ‘tempah dedoro’ dan sudah berjalan sekitar 2 bulan terakhir,” kata H Nizar Denny Cahyadi di Mataram, Jumat (2/1/2026).
Hasil evaluasi menunjukkan penurunan signifikan pada volume sampah organik yang dibuang masyarakat. Dari rata-rata 180 kilogram sampah per hari, kini hanya sekitar 80 kilogram yang berakhir di tempat penampungan sementara (TPS). Sebanyak 100 kilogram sampah organik warga di lingkungan tersebut kini langsung diolah dalam “tempah dedoro” menjadi pupuk organik.
“Pupuk organik yang dihasilkan warga, dapat dimanfaatkan untuk memberi nutrisi pada tanaman di pekarangan rumah warga,” tambahnya.
Mekanisme dan Manfaat “Tempah Dedoro”
Sistem pengolahan sampah “tempah dedoro” dirancang menggunakan buis beton yang dilengkapi penutup dan lubang untuk membuang sampah organik. Melalui wadah ini, masyarakat dapat mengolah sampah organik secara mandiri di rumah atau lingkungan masing-masing.
Untuk menghilangkan aroma tidak sedap dari sampah organik dan sisa makanan, masyarakat dapat menyemprotkan cairan EM4 atau memanfaatkan air bekas cucian beras yang mudah didapatkan. Cairan ini juga berfungsi mempercepat proses penguraian.
“Setelah sampah organik terurai, masyarakat bisa panen kompos sebagai pupuk alami untuk tanaman,” jelas H Nizar Denny Cahyadi.
Target Perluasan Program dan Dampak Lingkungan
Melihat keberhasilan uji coba ini, DLH Kota Mataram kini sedang menyiapkan program serupa untuk 50 kelurahan lainnya di Kota Mataram. Tahap awal pengembangan “tempah dedoro” akan difokuskan pada satu lingkungan per kelurahan, dengan target jangka panjang mencapai 325 lingkungan di seluruh Kota Mataram.
Program ini diharapkan menjadi solusi penanganan sampah yang efektif sekaligus mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA). “Apalagi volume sampah sehari di Kota Mataram yang mencapai 220-230 ton, sebagian besar atau 60 persen merupakan sampah organik,” ungkapnya.
Sementara itu, 40 persen sampah anorganik di Mataram juga telah diolah menjadi batako di TPST modern Sandubaya dan Mataram Maggot Center. Untuk pengembangan lebih lanjut, DLH akan berkoordinasi dengan aparat kelurahan dan lingkungan.
“Untuk lingkungan sempit, ‘tempah dedoro’ bisa dibuat di jalan karena ‘tempah dedoro’ dapat berfungsi sebagai resapan air,” pungkas H Nizar Denny Cahyadi. Harapannya, “tempah dedoro” dapat menjadi solusi penanganan sampah perkotaan yang ramah lingkungan di Mataram.









