Surabaya, Senin, 22 Desember 2025 – Menjelang libur akhir tahun 2025, Kebun Raya Mangrove Surabaya yang diresmikan sejak Juli 2023 dan diklaim sebagai satu-satunya di Indonesia, justru menampilkan potret pengelolaan yang buram. Kawasan seluas 34 hektar di Wonorejo, Gunung Anyar, dan Medokan Sawah ini, yang seharusnya menjadi primadona, kini jauh dari kata layak.
Akses Sulit dan Fasilitas Terbengkalai
Salah satu keluhan utama pengunjung adalah minimnya akses transportasi umum serta penunjuk arah yang jelas menuju lokasi wisata. Maria, salah seorang pengunjung, pada Senin (22/12/2025) mengungkapkan kesulitannya. “Selama perjalanan tidak ada penunjuk arah, hanya penunjuk arah bozem Wonorejo yang saya lihat. Ya tanya orang-orang sambil nge-maps khawatir kesasar,” ujarnya.
Kondisi fasilitas juga tak kalah memprihatinkan. Strategi pengembangan yang disusun pada tahun 2025, termasuk konsep natural resources, perluasan jogging track, dan sentra wisata kuliner, masih belum terealisasi. Arya, pengunjung lain, menyoroti sentra kuliner yang sepi. “Sentra kulinernya hanya tulisannya saja, tadi haus rencananya mau beli minum eh sepi. Hanya tinggal lapak dan meja kursinya saja. Next kalau kesini harus bawa bekal mas, itupun kalau kesini lagi jika seperti ini kondisinya,” jelasnya.
Fasilitas dasar seperti toilet umum, musala sederhana, dan area parkir seadanya memang tersedia, namun spot foto yang seharusnya menarik justru terbengkalai. Tumpukan sampah juga terlihat di dekat jogging track, menambah kesan kurang terawat.
Penelitian 2020 dan Stagnasi Pengembangan
Penelitian yang dilakukan oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya pada tahun 2020 telah mengidentifikasi beberapa faktor penghambat pengembangan ekowisata mangrove. Faktor-faktor tersebut meliputi ketiadaan transportasi umum yang terjangkau, kurangnya koordinasi antar instansi terkait fasilitas dan papan penunjuk lokasi, serta pengembangan lingkungan sekitar yang belum optimal. Lima tahun berselang, di penghujung 2025, mayoritas masalah ini masih belum terselesaikan, dan strategi pengembangan pun belum digarap.
DPRD Surabaya Desak Inovasi dan Keseriusan
Menanggapi kondisi ini, Ketua Komisi A DPRD Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko, menilai pengelolaan wisata di Surabaya masih terjebak pola lama yang minim inovasi. Ia menekankan bahwa tekanan fiskal dan berkurangnya dana transfer pusat seharusnya menjadi pemicu bagi Pemerintah Kota Surabaya untuk lebih serius menjadikan sektor pariwisata sebagai penggerak Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Surabaya punya aset wisata, tapi banyak yang dikelola setengah hati. Kita sering bangga saat peresmian, tapi setelah itu pengelolaannya stagnan,” ucap Yona saat dikonfirmasi. Ia mengingatkan, tanpa inovasi dan keberanian mengambil keputusan strategis, Kebun Raya Mangrove Surabaya berisiko terus menjadi aset tidur, terutama di tengah persaingan destinasi wisata dan kebijakan efisiensi anggaran.
Yona menegaskan momentum libur akhir tahun seharusnya menjadi titik balik. “Momentum libur akhir tahun seharusnya bisa menjadi titik balik. Pertanyaannya tinggal satu: Pemkot mau serius menggarap potensi ini, atau membiarkannya jalan di tempat,” katanya. Ia menambahkan, “Ini satu-satunya kebun raya mangrove di Indonesia. Seharusnya bisa menjadi magnet nasional kalau dikelola profesional dan dipromosikan dengan benar.”
