Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid menegaskan bahwa pengukuhan kepengurusan Kerukunan Keluarga Bungku (KKB) Sulawesi Tengah menjadi momentum penting untuk memperkuat semangat persaudaraan dan solidaritas di antara warga Bungku, khususnya yang berada di perantauan. Pernyataan ini disampaikan Gubernur Hafid di Palu pada Selasa, 17 Februari 2026.

Menurut Gubernur, sebuah organisasi kerukunan keluarga harus memiliki ciri khas saling tolong-menolong antar anggotanya. “Yang namanya organisasi kerukunan keluarga harus ada ciri-ciri, mereka saling tolong menolong,” ujar Anwar Hafid.

Untuk itu, ia menginstruksikan agar KKB Sulteng melakukan pendataan menyeluruh terhadap seluruh warga Bungku di berbagai wilayah. Langkah ini bertujuan agar organisasi memiliki basis data yang kuat, memungkinkannya menjalankan peran sebagai wadah gotong royong, silaturahmi, dan saling membantu antaranggota secara efektif.

Gubernur juga menyoroti tiga filosofi utama yang menjadi karakteristik masyarakat Bungku: berjamaah, unggul, dan kuat. Nilai-nilai ini dirangkum dalam semboyan “Tepe Asa Maroso”, yang berarti “bersama kita kuat”. Ia menekankan bahwa semboyan tersebut merupakan warisan leluhur yang harus terus dijaga dan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.

  BI Sulteng Siapkan Rp2,86 Triliun, Pastikan Ketersediaan Uang Kartal Jelang Idul Fitri 2026

Selain itu, Anwar Hafid mengingatkan pentingnya mempertahankan kearifan lokal agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman. Ia memperingatkan bahwa meninggalkan nilai-nilai tradisi justru dapat menghambat kemajuan masyarakat. “Kearifan lokal dari orangtua kita ini tidak boleh ditinggalkan. Kapan saja kita tinggalkan maka kita tidak akan maju,” tegasnya.

Penguatan nilai budaya dan solidaritas sosial, lanjut Gubernur, merupakan kontribusi nyata masyarakat dalam mendukung pembangunan daerah serta menjaga keharmonisan sosial di tengah keberagaman.

50% LikesVS
50% Dislikes