Harimau Sumatra kembali menampakkan diri di dekat permukiman warga Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Riau, pada Rabu (28/1/2026). Kemunculan satwa dilindungi ini terjadi di lokasi yang sama dengan rekaman video viral sebelumnya, memicu respons cepat dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau.
Kepala Bidang Teknis BBKSDA Riau, Ujang Holisudin, membenarkan laporan terbaru tersebut. “Kami pagi ini baru dapat laporan juga, bahwa harimau sumatra muncul lagi,” kata Ujang pada Rabu (28/1/2026).
Menurut Ujang, harimau tersebut terlihat di kanal pembuangan air perusahaan hutan tanaman industri (HTI) PT Arara Abadi, yang berbatasan langsung dengan area perusahaan dan permukiman masyarakat. Laporan kemunculan baru ini diunggah melalui akun Instagram @Infosorek.
Menindaklanjuti laporan tersebut, BBKSDA Riau segera mengirimkan petugas resort dan seksi wilayah ke lokasi untuk penanganan lebih lanjut. “Petugas resort dan seksi wilayah sudah berangkat kembali ke lokasi untuk melakukan penanganan,” jelas Ujang.
Upaya Mitigasi dan Kemunculan Berulang
Kemunculan harimau ini bukan yang pertama kali. Sekitar sepekan sebelumnya, satwa serupa juga dilaporkan terlihat di area yang sama. Tim BBKSDA Riau telah melakukan penghalauan dan pengecekan menggunakan camera trap serta drone thermal, namun harimau tersebut tidak ditemukan.
“Berdasarkan informasi dari masyarakat yang diterima petugas resort dan seksi wilayah HS (Harimau Sumatra) muncul kembali di lokasi yang hampir sama,” tambah Ujang Holisudin.
Sebelumnya, pada Senin (19/1/2026), sebuah video viral di media sosial juga memperlihatkan beberapa individu yang diduga anak harimau terekam kamera warga di Desa Pulau Muda. Menanggapi video tersebut, BBKSDA Riau langsung menurunkan tim mitigasi.
Kepala Balai Besar KSDA Riau, Supartono, pada Selasa (20/1/2026), menjelaskan hasil identifikasi tim di lapangan. Kemunculan satwa Harimau Sumatra terdeteksi berada di perbatasan kawasan hutan, yang merupakan bagian dari kantong (habitat) pergerakan alami Harimau Sumatra.
“Lokasi kemunculan berjarak cukup dekat dengan pemukiman warga, yakni sekitar 200 hingga 300 meter,” ungkap Supartono.
Satu Keluarga Harimau dan Langkah Penanganan
Hasil mitigasi tim BBKSDA Riau di lapangan mengindikasikan adanya lebih dari satu individu harimau. Tim menduga satwa tersebut merupakan satu kesatuan keluarga, terdiri dari satu induk dan anak-anaknya yang diperkirakan berusia 4 hingga 5 bulan.
“Pada usia tersebut, anak harimau masih berada dalam masa transisi penyapihan dan memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap induknya,” jelas Supartono.
Saat ini, tim gabungan yang melibatkan unsur TNI, Polri, pihak Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) terdekat, serta masyarakat setempat, terus melakukan pemantauan intensif secara berkala.
“Fokus utama tim saat ini adalah melakukan upaya penggiringan agar kawanan harimau tersebut bergerak kembali menjauh dari pemukiman dan masuk ke dalam kawasan hutan yang lebih aman,” tegas Supartono.
Selain upaya teknis di lapangan, tim juga gencar melakukan sosialisasi dan imbauan kepada masyarakat. Warga diminta untuk tidak merekam dan menyebarluaskan video penemuan Harimau Sumatra guna menghindari kepanikan dan penyebaran informasi hoaks.
Edukasi juga diberikan agar warga selalu waspada dalam beraktivitas, terutama pada waktu fajar dan menjelang malam. Masyarakat juga diimbau untuk menjaga peliharaan ternak dengan aman dan tidak melepaskannya di area terbuka, guna menghindari daya tarik bagi harimau mendekati permukiman.
“Apabila menemukan penampakan harimau segera melaporkan kepada tim Balai Besar KSDA Riau jika melihat tanda-tanda keberadaan satwa tersebut,” ujar Supartono.
Supartono menegaskan, penanganan di lokasi mengedepankan prinsip keselamatan manusia sekaligus perlindungan satwa Harimau Sumatra yang dilindungi. “Tim akan terus berada di lokasi hingga situasi dipastikan kondusif dan pergerakan satwa telah menjauh dari zona aktivitas warga,” pungkasnya.
