Puluhan tenaga honorer yang gagal masuk dalam usulan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu menggelar aksi demonstrasi di Kantor Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Rabu (17/12/2025) petang. Aksi ini bertepatan dengan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-67 Provinsi NTB.
Para demonstran, yang kompak mengenakan pakaian serba hitam, membawa serta kue ulang tahun dan nasi tumpeng sebagai simbol. Mereka menuntut Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB untuk tetap mengakomodir seluruh honorer yang terancam kehilangan pekerjaan.
Irfan, salah satu honorer yang tidak masuk data PPPK Paruh Waktu, menyampaikan kekecewaannya. “Kami punya anak istri. Pemerintah seolah-olah diam dengan persoalan ini dan melempar semua urusan ini ke pusat,” tegas Irfan saat berorasi di depan kantor Gubernur NTB, Mataram.
Menurut Irfan, sebanyak 518 tenaga honorer di lingkup Pemprov NTB tidak tercatat dalam usulan PPPK Paruh Waktu. Ia mengungkapkan kekhawatiran akan masa depan mereka. “Harusnya kami menerima penghargaan atas pengabdian bertahun-tahun,” imbuhnya.
Irfan juga menyoroti minimnya respons dari Pemprov NTB. Ia menyebut bahwa permohonan audiensi yang telah mereka kirimkan kepada gubernur, wakil gubernur, hingga Badan Kepegawaian Daerah (BKD) NTB tidak pernah ditanggapi. “Pintu-pintu kekuasaan tertutup rapat, seolah jeritan honorer hanyalah kebisingan yang mengganggu agenda besar perayaan,” ujarnya.
Meskipun bertepatan dengan perayaan HUT, Irfan menegaskan bahwa tujuan aksi mereka bukan untuk mengganggu. “Kami bukan mau mengganggu perayaan HUT NTB, tapi kami mau kekuasaan itu mendengar kami masyarakat kecil. Kami mau merasakan kebahagiaan yang sama dengan masyarakat yang lain. Kami membawa selendang, kue ulang tahun, dan nasi tumpeng untuk gubernur,” jelasnya.
Menanggapi aksi tersebut, Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) NTB Lalu Moh Faozal bersama Kepala BKD NTB Tri Budi Prayitno menemui para honorer. Faozal memilih irit bicara dan meminta para honorer untuk menyampaikan aspirasi mereka di Ruang Anggrek Kantor Gubernur NTB. “Sebentar kami mau bertemu mereka untuk menjelaskan,” ujar Faozal singkat.
Hingga pukul 20.30 Wita, audiensi antara perwakilan honorer dan Kepala BKD NTB Tri Budi Prayitno masih berlangsung secara tertutup.









