Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Barat (NTB) melaporkan laju inflasi bulanan sebesar 0,72 persen pada Desember 2025. Kenaikan harga komoditas hortikultura menjadi pemicu utama lonjakan inflasi tersebut.

Kepala BPS NTB Wahyudin di Mataram, Senin (5/1/2026), menjelaskan lima komoditas penyumbang inflasi bulanan terbesar adalah cabai rawit, cabai merah, tomat, daging ayam ras, dan perhiasan. Cabai rawit menyumbang inflasi bulanan sebesar 0,28 persen, diikuti bawang merah 0,17 persen, emas perhiasan 0,12 persen, tomat 0,10 persen, dan daging ayam ras 0,07 persen.

Wahyudin menyoroti preferensi konsumen dan faktor cuaca sebagai penyebab kenaikan harga cabai.

“Ibu-ibu yang berbelanja cenderung lebih menyukai cabai Lombok, sehingga mendongkrak harga cabai rawit. Selain itu ada faktor musim penghujan yang mempengaruhi produktivitas hortikultura,”
ujarnya.

Meski demikian, penurunan harga beberapa komoditas perikanan turut menahan laju inflasi agar tidak melonjak lebih tinggi. Komoditas yang berkontribusi terhadap deflasi meliputi ikan teri sebesar 0,04 persen, angkutan udara 0,03 persen, cabai merah 0,02 persen, ikan layang atau ikan bonggol 0,02 persen, dan ikan bandeng 0,01 persen.

“Beberapa komoditas yang harganya menurun inilah yang menekan angka inflasi, sehingga laju inflasi pada Desember 2025 sebesar 0,72 persen,”
kata Wahyudin.

Lebih lanjut, Wahyudin juga mengaitkan kenaikan harga daging ayam ras dengan bergulirnya program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini memicu lonjakan permintaan yang berdampak pada inflasi. Saat ini, NTB memiliki lebih dari 500 unit dapur MBG yang melayani sekitar 1,6 juta penerima manfaat dari target 1,8 juta orang.

“Kebutuhan terhadap daging ayam ras akhir-akhir ini cukup tinggi. Di samping untuk kebutuhan rumah tangga, ada juga kebutuhan lain yang ditopang program MBG,”
pungkas Wahyudin.