Indonesia tengah membangun International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) di Teluk Ekas, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Pusat riset bertaraf internasional ini diharapkan akan memperkuat riset rumput laut Indonesia sebagai bagian integral dari strategi nasional dan transformasi ekonomi pesisir.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, menegaskan komitmen pemerintah dalam menjadikan Indonesia sebagai pusat rumput laut dunia. “Fokus besar kami beberapa bulan terakhir adalah menjadikan Indonesia pusat rumput laut dunia, dan itu harus dimulai sekarang. Karena itu, kita membangun pusat riset bertaraf internasional dengan standar dan jejaring yang memang global,” kata Stella Christie di Jakarta, Sabtu (14/2/2026).

Pemilihan Teluk Ekas sebagai lokasi riset bukan tanpa alasan. Kawasan ini telah lama menjadi ruang hidup masyarakat pesisir, baik untuk budidaya maupun tangkap. Dengan adanya ITSRC, diharapkan hasil tangkapan dan kualitas budidaya dapat meningkat melalui pengembangan bibit rumput laut unggul berbasis riset.

Stella Christie juga menyoroti posisi Indonesia sebagai produsen rumput laut tropis terbesar di dunia, dengan penguasaan sekitar 75 persen pasar global. Potensi ekonomi rumput laut sangat besar. “Nilai ekonomi rumput laut dunia mencapai 12 miliar Dolar Amerika Serikat (AS) per tahun, dan diperkirakan akan terus meningkat,” ujarnya.

  Ketua Baznas Lombok Timur: Pemotongan Zakat PPPK Paruh Waktu di Luar Tanggung Jawab Lembaga

Meski demikian, Stella menekankan bahwa dominasi Indonesia di pasar global belum sepenuhnya diimbangi dengan penguatan riset dan hilirisasi di dalam negeri. Ia menggarisbawahi pentingnya Indonesia tidak hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi juga pusat inovasi dan nilai tambah. Oleh karena itu, ITSRC dirancang sebagai simpul kolaborasi nasional dan internasional.

Kolaborasi Internasional dan Pendanaan

Untuk mewujudkan visi tersebut, ITSRC menjalin kerja sama dengan sejumlah institusi global. “Kami bekerja sama dengan University of California, Berkeley, dan Beijing Genomics Institute dari China,” ungkap Stella Christie.

Beijing Genomics Institute berkomitmen mendukung pendanaan sebesar Rp3 miliar untuk dua tahun pertama, yang mencakup peralatan dan peneliti. Sementara itu, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) juga telah mengalokasikan dana sebesar Rp1,5 miliar untuk tahap awal pembangunan pusat riset ini.

Sejumlah fasilitas pendukung akan dibangun di dalam kompleks ITSRC, meliputi gedung penelitian, asrama bagi peneliti internasional, apotek, serta sarana pendukung lainnya untuk menunjang aktivitas riset dan pengembangan.

  RSUD Soedjono Selong Tingkatkan Mutu Pelayanan, Gelar Pelatihan Komprehensif untuk Petugas Kesehatan

Secara ekologis, Teluk Ekas menawarkan kondisi ideal sebagai living laboratory. Sistem teluk tropis yang relatif terlindung, dengan arus dan sirkulasi air yang cukup baik, menjadikannya lokasi strategis untuk riset produktivitas, ketahanan iklim, dan pengembangan biomassa skala tropis. Selain rumput laut jenis Kappaphycus yang menjadi bahan baku karagenan, kawasan ini juga potensial untuk pengembangan jenis rumput laut Caulerpa, Ulva, dan Halymenia.

50% LikesVS
50% Dislikes