Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong (Pemkab Parimo), Sulawesi Tengah, membuka opsi untuk meminta bantuan helikopter guna mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Desa Avolua. Langkah ini diambil setelah luasan lahan terbakar diperkirakan mencapai 90 hektare, meningkat signifikan dari laporan awal 42 hektare.
Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase, menyatakan bahwa koordinasi dengan Gubernur Sulawesi Tengah akan segera dilakukan. “Kami segera berkoordinasi dengan Gubernur Sulawesi Tengah untuk upaya percepatan penanganan. Dari peninjauan kami lakukan perlu pemadaman langsung dari udara,” ujar Erwin saat meninjau lokasi karhutla pada Kamis, 5 Februari 2026.
Menurut data dari citra satelit yang dirilis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah, medan yang sulit dan hembusan angin kencang menjadi tantangan utama bagi petugas di lapangan. Titik kebakaran berada di atas gunung, menyulitkan upaya pemadaman darurat yang saat ini masih mengandalkan alat manual.
Sembari menunggu realisasi bantuan udara, Pemkab Parigi Moutong terus memaksimalkan upaya pemadaman secara manual. Sebanyak 30 unit mesin alkon untuk menyedot air dan alat pelindung diri (APD) dari Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) akan segera dikirim ke lokasi. Selain itu, tiga unit kendaraan pemadam kebakaran (damkar) dari Pemkab Parimo dan dua unit mobil tangki milik Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan (BPBPK) Sulteng telah dikerahkan.
Hingga hari kelima karhutla ini, tim gabungan yang terdiri dari personel BPBD, pemadam kebakaran, Satpol-PP, TNI/Polri, tim Manggala Agni Kementerian Kehutanan, aparat desa, dan warga setempat terus berjibaku. Pemkab juga telah meminta bantuan peralatan tambahan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berupa tangki semprot dan APD untuk petugas di lapangan. Erwin Burase juga telah menginstruksikan instansi teknis terkait untuk mendata kebun masyarakat yang terdampak karhutla.

