Kasus demam berdarah (DD) di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, mengalami lonjakan signifikan. Dalam kurun waktu satu bulan, terhitung sejak 1 Januari hingga 1 Februari 2026, sebanyak 157 warga dilaporkan terserang penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes aegypti ini, dengan satu penderita di antaranya meninggal dunia.
Dari total 157 kasus, 33 di antaranya dikategorikan sebagai demam berdarah dengue (DBD). Korban meninggal dunia adalah seorang anak berusia 12 tahun dari Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Jepara.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Hadi Sarwoko, pada Rabu (4/2), membenarkan lonjakan kasus ini. “Sebagian besar penderita demam berdarah adalah anak-anak, bahkan laporan yang masuk pasien meninggal akibat DBD adalah anak berusia 12 tahun,” ujarnya.
Lonjakan kasus ini diduga kuat akibat musim hujan dengan intensitas tinggi yang masih melanda wilayah Jepara. Banyaknya genangan air akibat banjir mempercepat proses perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.
Data Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara menunjukkan bahwa kasus demam berdarah di wilayah tersebut memang cukup tinggi. Sepanjang Januari hingga Desember tahun 2025, tercatat 2.646 kasus DD dan DBD, yang terdiri dari 2.526 kasus DD dan 119 kasus DBD, dengan satu pasien meninggal dunia.
Menyikapi kondisi ini, Pemerintah Kabupaten Jepara melalui Dinas Kesehatan telah mengeluarkan surat edaran kewaspadaan dini sejak akhir Januari 2026. Surat tersebut ditujukan kepada seluruh kepala OPD, camat, hingga kepala puskesmas se-Kabupaten Jepara.
Dinas Kesehatan juga terus menggencarkan upaya pemberantasan nyamuk melalui pengaktifan gerakan juru pemantau jentik (jumantik) di berbagai kecamatan yang tersebar merata kasusnya.
“Langkah pencegahan dini ini harus dilakukan sebab pada sejak Desember lalu terutama pada Januari hingga Februari intensitas hujan cukup tinggi, sehingga banyak genangan air banjir cukup lama. Hal itu dapat mempercepat proses berkembang biak nyamuk Aedes aegypti,” tambah Hadi.

