Kasus gangguan jiwa pada anak dan remaja di Provinsi Jawa Barat menunjukkan peningkatan signifikan dalam setahun terakhir. Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Cisarua mencatat lonjakan jumlah pasien usia anak dan remaja yang mencari layanan kesehatan jiwa, dengan depresi menjadi salah satu kasus dominan.

Rata-rata kunjungan ke poliklinik psikiatri anak dan remaja di RSJ Cisarua kini mencapai sekitar 30 pasien per hari. Angka ini meningkat dari tahun-tahun sebelumnya yang hanya berkisar 20 pasien per hari, mengindikasikan urgensi penanganan masalah kesehatan mental pada generasi muda.

Variasi Kasus dan Pemicu Depresi

Subspesialis Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja RSJ Cisarua, dr. Lina Budiyanti, pada Sabtu (7/2/2026) mengungkapkan bahwa variasi kasus yang ditangani cukup luas. “Variasi kasusnya cukup luas. Pasien yang kami tangani mencakup gangguan perkembangan seperti autisme dan disabilitas intelektual, hingga gangguan mental emosional seperti depresi, kecemasan, dan gangguan kepribadian,” ujarnya.

Dari seluruh pasien anak dan remaja yang ditangani, sekitar 20 hingga 30 persen di antaranya didiagnosis mengalami depresi. Mayoritas pasien depresi ini berada dalam kelompok usia remaja, yakni antara 10 hingga 18 tahun.

  BMKG Prediksi Mayoritas Jawa Barat Diguyur Hujan Ringan pada Jumat, 20 Februari 2026

Menurut dr. Lina, pemicu depresi pada remaja sangat kompleks, namun tekanan dari relasi teman sebaya menjadi faktor dominan yang paling sering ditemukan. Ia menjelaskan, “Masalah pertemanan menjadi stressor utama, bisa karena perundungan, atau perasaan tidak diterima. Sebagian remaja merasa dirinya lebih rendah dibandingkan teman sebayanya, meski tidak selalu ada bullying secara langsung.”

Selain tekanan pertemanan, faktor keluarga dan penggunaan gawai, termasuk media sosial, juga turut berkontribusi terhadap peningkatan kasus depresi. Anak-anak yang sejak kecil terbiasa dengan gawai cenderung kurang terlatih dalam interaksi sosial langsung, sehingga kesulitan membangun keterampilan sosial saat remaja. Kondisi ini seringkali membuat mereka melarikan diri ke dunia digital saat menghadapi masalah pergaulan, yang justru dapat memperburuk kondisi mental. Paparan media sosial juga memicu kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain, menciptakan perasaan bahwa kehidupan mereka lebih buruk dari gambaran ideal di dunia maya.

Pendekatan Penanganan dan Pencegahan

Dalam penanganan depresi pada anak dan remaja, RSJ Cisarua menerapkan pendekatan biopsikososial. Pendekatan ini mencakup aspek biologis, psikologis, dan lingkungan sosial pasien. Terapi biologis berupa obat dapat diberikan sesuai indikasi medis jika depresi sudah mengganggu fungsi sehari-hari, seperti menarik diri, konflik keluarga, atau penolakan sekolah.

  Pasokan Berkurang, Harga Ayam dan Cabai di Bengkulu Meroket Jelang Ramadan 1447 H

Intervensi psikologis dilakukan melalui psikoterapi atau konseling untuk memperbaiki pola pikir negatif dan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Dari sisi sosial, rumah sakit juga melibatkan keluarga dan sekolah untuk menciptakan lingkungan yang lebih kondusif dan suportif bagi anak.

Terkait pencegahan, dr. Lina Budiyanti menegaskan bahwa depresi pada anak dan remaja sangat mungkin dicegah melalui pola asuh sehat sejak dini. Orang tua didorong untuk lebih peka terhadap perubahan emosi dan perilaku anak. “Kami mendorong orang tua dan guru meningkatkan literasi kesehatan jiwa serta menghilangkan stigma terhadap konsultasi psikologis. Konsultasi dini membantu masalah dikenali lebih cepat sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih berat,” tandasnya.

50% LikesVS
50% Dislikes