Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), telah menyiapkan lahan alternatif di Kelurahan Babakan. Lahan ini akan menjadi lokasi relokasi Tempat Penampungan Sementara (TPS) Sandubaya yang saat ini mengalami kelebihan kapasitas.

Kepala DLH Kota Mataram, Nizar Denny Cahyadi, menyatakan bahwa keputusan ini diambil menyusul kondisi TPS Sandubaya yang sudah tidak mampu menampung volume sampah. “TPS Sandubaya saat ini sudah mengalami kelebihan kapasitas (overload), sehingga aktivitas TPS segera kami relokasi ke Babakan,” ujar Nizar di Mataram, Senin (19/1/2026).

Nizar menjelaskan, lahan yang disiapkan di TPS Babakan memiliki luas sekitar 23.000 meter persegi. Area ini akan segera dioperasikan untuk mengurangi beban penumpukan sampah di TPS Sandubaya.

Saat ini, volume sampah di TPS Sandubaya telah mencapai sekitar 10.000 ton, jauh melampaui kapasitas tampung yang hanya sekitar 100 ton. TPS ini melayani penampungan sampah dari dua kecamatan, yaitu Kecamatan Cakranegara dan Sandubaya.

Di TPS Babakan, DLH akan menerapkan metode gali timbun (landfill) untuk memastikan kawasan tetap rata dengan tanah dan meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan sekitar. Meski demikian, tiga unit insinerator yang ada di TPS Sandubaya akan tetap beroperasi di lokasi tersebut. Setiap unit insinerator memiliki kapasitas pembakaran 10 ton per hari, sehingga total 30 ton sampah dapat dikurangi setiap harinya melalui proses pembakaran.

  Pemkot Mataram Perketat Pengawasan Penjualan Kembang Api dan Petasan Jelang Nataru 2025/2026

“Setelah persiapan lahan rampung, dalam waktu dekat TPS alternatif Babakan segera kami operasionalkan,” tegas Nizar.

Krisis Sampah di Mataram

Kondisi kelebihan kapasitas ini tidak lepas dari kebijakan Pemerintah Provinsi NTB yang sejak 10 Desember 2025 telah mengurangi ritase pembuangan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok, Kabupaten Lombok Barat. Pengurangan drastis dari empat ritase menjadi hanya satu ritase per hari ini memicu penumpukan sampah di berbagai TPS di Kota Mataram.

Akibatnya, sejumlah TPS di Kota Mataram mengalami kelebihan kapasitas, menyebabkan kota ini kembali menyandang status “kota darurat sampah”.

Menanggapi situasi ini, Nizar memastikan DLH terus berupaya mencari solusi. “Berbagai upaya dan inovasi terus kami lakukan agar sampah di Kota Mataram bisa tertangani secara maksimal,” katanya.

Salah satu inovasi yang digencarkan adalah program “tempah dedoro” yang mendorong partisipasi masyarakat dalam mengolah sampah organik secara mandiri. Nizar mengklaim, “Pengolahan sampah organik dengan sistem tempah dedoro terbukti efektif mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPS hingga 60 persen.”

50% LikesVS
50% Dislikes