Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memastikan tren peningkatan virus influenza A (H3N2) subclade K di wilayahnya hingga akhir tahun 2025 masih dalam keadaan terkendali. Ia menegaskan masyarakat tidak perlu panik berlebihan.

“Kami ingin menegaskan kepada masyarakat bahwa virus influenza A (H3N2) subclade K tidak berbahaya dan tidak mematikan. Jatim sangat terkendali,” kata Khofifah di Surabaya, Senin (5/1).

Menurut Khofifah, hasil surveilans dan pemeriksaan laboratorium rujukan Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa situasi influenza A (H3N2) subclade K di Jawa Timur dan Indonesia secara umum masih terkendali. Varian ini tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan dibandingkan varian influenza lainnya.

Waspada Tetap Diperlukan

Munculnya varian baru merupakan hal yang wajar dalam perkembangan virus influenza. Para ahli terus memantau kondisi ini melalui pemantauan ilmiah. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap waspada.

“Masyarakat tidak perlu panik, namun harus tetap waspada dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS),” ujar Khofifah di Gedung Negara Grahadi, Senin (5/1).

Meskipun kondisi terkendali, pengamatan atau surveilans terhadap virus tersebut terus dilakukan. Salah satu upaya adalah melalui site sentinel Influenza Like Illness (ILI) di Puskesmas Dinoyo Kota Malang dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) di RSUD dr. Saiful Anwar Kota Malang.

  Gunung Semeru Kembali Erupsi, Semburkan Kolom Abu 1,2 Kilometer dan Enam Kali Meletus dalam Semalam

Pemantauan dan Temuan Kasus

Data dari ILI didefinisikan sebagai penderita dengan demam ≥38°C yang disertai batuk dan gejala timbul kurang dari 10 hari. Sementara itu, SARI merupakan sindrom pernapasan akut berat. Hasil surveilans ini secara rutin dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya, kemudian diteruskan ke Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan (Biokes) Jakarta untuk pemeriksaan Whole Genome Sequencing.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, tercatat 18 kasus positif dengan waktu pengambilan spesimen pada September hingga November 2025. Mayoritas kasus ditemukan pada kelompok usia anak dan remaja, dengan proporsi yang seimbang antara laki-laki dan perempuan.

“Seluruh temuan ini menjadi dasar bagi Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk terus memperkuat kewaspadaan dini, terutama melalui pemantauan kasus ISPA di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan,” jelasnya.

Langkah Antisipatif Pemerintah Provinsi Jawa Timur

Pemerintah Provinsi Jawa Timur, melalui Dinas Kesehatan, telah mengambil berbagai langkah antisipatif. Langkah-langkah tersebut meliputi:

  • Pemantauan rutin surveilans ILI-SARI.
  • Koordinasi intensif dengan Kementerian Kesehatan RI dan BBLKM Surabaya.
  • Pemantauan rutin Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) mingguan.
  • Pelaporan hasil pemeriksaan spesimen melalui aplikasi NAR sebagai upaya deteksi dini berbasis data.
  • Pembaruan dan refreshing bagi petugas kesehatan terkait penanganan ISPA.
  • Edukasi dan promosi kesehatan kepada masyarakat mengenai etika batuk dan PHBS.
  • Rekomendasi vaksin influenza, khususnya bagi kelompok berisiko seperti balita dan individu dengan daya tahan tubuh rendah.
  Polda Jatim Larang Warga Konvoi pada Malam Tahun Baru, Minta Rayakan di Rumah

“Meskipun di Jatim terkendali, saya mengajak masyarakat untuk disiplin menerapkan etika batuk dan perilaku hidup bersih dan sehat. Penggunaan masker, terutama di kerumunan dan ruang tertutup, sangat dianjurkan,” tutup Khofifah.

50% LikesVS
50% Dislikes