Tim para panahan Indonesia mencetak sejarah di ASEAN Para Games 2025 Thailand dengan menciptakan ‘All Indonesian Final’ pada nomor recurve open tunggal putra. Kholidin berhasil meraih medali emas setelah menaklukkan rekan senegaranya, Setyawan, dalam pertandingan yang berlangsung sengit.
Duel puncak tersebut terjadi di Mook Stadium Field, Vongchavalitkul University, pada Jumat (23/1). Kholidin sukses mengungguli Setyawan dengan skor akhir 7-3.
Tak hanya itu, duet Kholidin dan Setyawan kembali menunjukkan dominasinya di nomor recurve open ganda putra. Mereka berhasil menyabet medali emas setelah tampil perkasa menundukkan pasangan andalan Malaysia, Muhammad Azaruddin bin Mat/Suresh Selvatamby, dengan skor telak 6-0.
Setyawan turut menyumbangkan satu medali perak dari nomor recurve open tunggal putra. Sementara itu, Mahda Aulia menambah perolehan medali dengan meraih perunggu di nomor recurve open tunggal putri, setelah mengalahkan Riyanti Ananda, atlet Indonesia lainnya.
Pelatih para panahan Indonesia, Idya Putra Harjianto, mengungkapkan kegembiraannya atas pencapaian luar biasa ini. Ia menyoroti konsistensi performa Kholidin dan Setyawan sejak awal kompetisi.
Kholidin dan Setiawan memang sudah sangat bagus sejak fase kualifikasi hingga eliminasi. Akhirnya, keduanya berhasil lolos ke final sekaligus menggaransi satu emas dan satu perak yang menjadi pembuka.
Dengan dua medali emas yang sudah di tangan, tim para panahan Indonesia kini berambisi melampaui prestasi pada ASEAN Para Games 2022. Kala itu, kontingen Indonesia berhasil membawa pulang tiga emas, tiga perak, dan empat perunggu.
Menurut Idya Putra Harjianto, pencapaian ini akan membuktikan dominasi Indonesia di regional Asia Tenggara. Ia berharap momentum positif ini terus berlanjut.
Semoga kesuksesan keduanya semakin menular karena kami masih memiliki lima laga final untuk memperebutkan medali emas. Target kami adalah melebihi pencapaian di ASEAN Para Games 2022 di Solo.
Idya juga menyoroti potensi atlet muda yang mulai menunjukkan taringnya.
Kami masih memiliki Arif Firmansyah dan Noviera Ross. Mereka belum genap satu tahun mengikuti pelatnas. Sudah kami gembleng dan akhirnya Noviera bisa masuk ke final bersama Kholidin, sedangkan Arif lolos ke final bersama Ken (Swagumilang).
Bagi Kholidin, pertemuan dengan Setyawan di final ASEAN Para Games 2025 ini mengingatkannya pada momen serupa di Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) 2024 di Solo.
Pada Peparnas 2024 yang lalu, saya juga harus berjumpa dengan Setiawan. Secara kebetulan, skor akhirnya juga sama, 7-3. Selama ini, kami memang sudah berlatih secara maksimal. Kalau harus bertemu rekan senegara, ya kami bermain lepas saja, Alhamdulillah, saya yang mendapatkan rezeki meraih emas.
Ia menambahkan, sebagai atlet asal Pekalongan, Jawa Tengah, ia merasa lebih santai saat berhadapan dengan rekan senegara.
Saat harus berhadapan dengan Wawan, saya jadi bisa lebih santai dalam bertanding. Apalagi, kami setiap hari juga sudah sering berjumpa di latihan. Bahkan, saat bermain bersama di nomor ganda, kami juga sering kali bersaing untuk memberi poin semaksimal mungkin.
Terciptanya All Indonesian Final ini tidak lepas dari strategi bagan babak 16 besar. Kholidin yang menduduki peringkat pertama kualifikasi dan Setyawan di urutan kedua, ditempatkan di posisi terpisah pada fase gugur. Kholidin bahkan sempat memberikan semangat kepada Setyawan saat fase kualifikasi agar tetap konsisten mempertahankan peringkat kedua, yang akhirnya berhasil dijaga oleh Setyawan.
Kholidin, yang kini berusia 47 tahun, berharap Setyawan dapat terus mengembangkan potensinya dan menjadi pembimbing bagi pemanah muda. Ia melihat Setyawan sebagai sosok vital untuk regenerasi para atlet para panahan Indonesia.
Untuk regenerasi, saya melihat Wawan sebagai sosok yang potensial. Dia memiliki keunggulan di aspek fisik. Saya yakin dia bisa menjadi tulang punggung Indonesia untuk beberapa tahun ke depan. Apalagi di usia yang lebih muda, kami sudah menyiapkan regenerasi.
Tim para panahan Indonesia masih memiliki peluang besar untuk menambah pundi-pundi medali. Beberapa laga final yang akan dipertandingkan antara lain:
- Teodora Audi Ayudia Ferelly di final nomor compound open tunggal putri, menghadapi Marzel Burgos (Filipina).
- Ken Swagumilang menantang atlet tuan rumah Thailand, Comsan Singpirom, pada final nomor compound open tunggal putra.
- Pasangan Kholidin/Noviera Ross di final nomor recurve open campuran.
- Pasangan Arif Firmansyah/Ken Swagumilang pada final nomor compound open ganda putra.
