Satu tahun setelah kepergiannya, detail pilu momen-momen terakhir aktris Taiwan Barbie Hsu akhirnya terungkap, menyentuh hati publik. Bintang yang dikenal luas melalui drama legendaris Meteor Garden itu wafat pada 3 Februari tahun lalu di usia 48 tahun.
Barbie Hsu meninggal dunia akibat komplikasi pneumonia yang dipicu flu saat sedang berlibur bersama keluarga di Jepang. Tragedi ini bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Imlek 2025 lalu.
Kondisi Kesehatan yang Rentan
Kisah menjelang akhir hidupnya dibeberkan dalam program Korea Selatan Celebrity Soldier’s Secret yang tayang pada 3 Februari. Dalam tayangan tersebut, dokter spesialis Lee Nak-jun mengungkapkan bahwa kondisi kesehatan Barbie memang cukup rentan.
Ia disebut mengidap mitral valve prolapse, sebuah penyakit jantung di mana katup mitral tidak menutup sempurna. Dokter Lee juga mengingatkan publik pada insiden serius yang dialami Barbie saat melahirkan putranya pada 2016. Kala itu, ia sempat berhenti bernapas, mengalami kejang akibat preeklamsia, dan koma selama 10 hari.
“Penyakit jantung meningkatkan risiko preeklamsia, dan preeklamsia justru memperburuk kondisi jantung. Ini menciptakan lingkaran yang sangat berbahaya,” ujar Dr Lee, yang pernyataannya diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
Perjalanan Liburan yang Berujung Tragis
Menurut program tersebut, tak lama setelah tiba di Jepang, Barbie mengalami gejala mirip flu, seperti demam tinggi dan nyeri tubuh. Demi meredakan rasa tidak nyaman, ia dilaporkan sempat berendam di pemandian air panas hotel atau onsen.
Namun, panas dari onsen diduga memicu lonjakan tekanan darah secara drastis dan memberi beban berat pada jantungnya yang lemah. Kondisinya kemudian memburuk hingga harus dilarikan ke rumah sakit.
Di rumah sakit, Barbie didiagnosis pneumonia dan disarankan untuk dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Meski demamnya sempat turun setelah diberi obat penurun panas, kondisi ini justru menyesatkan keluarga.
Barbie disebut ingin segera pulang ke Taiwan untuk beristirahat. Keinginan itu diikuti keluarga dengan memesan tiket penerbangan secepatnya. Namun, dokter Lee menegaskan penurunan demam pada pasien kronis tidak selalu pertanda baik.
“Pada pasien dengan kondisi kronis, demam yang menurun bisa berarti tubuh telah menyerah melawan virus,” jelas Dr Lee. Ia menyebut hal ini menjadi alasan kuat mengapa tim medis mendesak agar Barbie dirawat di rumah sakit yang lebih besar.
Detik-Detik Henti Jantung
Tragisnya, dalam perjalanan menuju bandara pada 2 Februari 2025 sore hari, Barbie mengalami henti jantung di dalam mobil. Ia sempat mendapatkan CPR dan perawatan intensif selama 14 jam, namun tidak pernah sadar hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir keesokan harinya, 3 Februari 2025.
Setahun setelah kepergiannya, suami Barbie, DJ Koo Jun-yup, mengenang sang istri dengan mendirikan patung di makamnya di Chin Pao San Cemetery, New Taipei. Momen haru itu menjadi simbol cinta dan kehilangan mendalam, sekaligus pengingat akan rapuhnya hidup di balik gemerlap dunia hiburan.

