Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, menghadapi krisis infrastruktur parah setelah akses jalan utama lumpuh selama 49 hari pascabanjir bandang. Kondisi ini menyebabkan puluhan ton hasil panen durian petani membusuk di kebun dan gagal menembus pasar, memicu kerugian ekonomi signifikan bagi masyarakat setempat.

Akses Jalan Terputus, Distribusi Durian Terhambat

Lumpuhnya jalur perekonomian ini disebabkan oleh titik-titik longsor dan badan jalan yang ambles di sepanjang lereng gunung serta tepi jurang. Medan yang ekstrem membuat kendaraan roda empat, termasuk truk pengepul, tidak dapat melintas. Akibatnya, satu-satunya akses yang tersisa hanyalah jalur tikus yang hanya bisa dilalui sepeda motor dengan risiko tinggi.

Hambatan logistik ini berdampak langsung pada distribusi hasil bumi. Dari estimasi produksi 10 ton durian per hari, hanya sebagian kecil yang berhasil dibawa ke Blang Kejeren menggunakan sepeda motor. Selebihnya, buah-buah durian berkualitas unggul tersebut dibiarkan berserakan di bawah pohon karena biaya angkut yang tidak lagi masuk akal.

“Sayang sekali di saat panen raya, banyak durian gagal dipasarkan keluar karena jalan rusak. Bahkan ada yang sampai membusuk akibat terbiarkan tidak dipungut di bawah pohon,” ujar seorang warga setempat.

  Polda Sumbar: Penanganan Kasus Pembunuhan Pensiunan Guru di Talago Dilakukan Profesional

Harga Anjlok, Ekonomi Warga Terancam

Keterisolasian ini memaksa harga durian di tingkat petani terjun bebas. Durian ukuran sedang yang biasanya dihargai Rp8.000 per buah, kini hanya bernilai Rp2.500 per buah. Penurunan drastis ini mengancam ketahanan ekonomi warga yang mengandalkan hasil tani untuk biaya pendidikan anak di perguruan tinggi serta persiapan menghadapi bulan Ramadan.

Kritik Keras Penanganan Pemerintah

Budayawan Universitas Syiah Kuala (USK), M. Adli Abdullah, melontarkan kritik keras terhadap penanganan pascabencana oleh pemerintah setempat. Ia menilai respons pemerintah tergolong lambat dan cenderung mengabaikan urgensi akses publik di daerah terisolir.

“Saya sudah dari pertama awal banjir berulang kali mengingatkan pemerintah untuk segera menembus daerah terisolir termasuk Kecamatan Pining. Lalu memperbaiki kembali jalan jembatan yang hancur saat banjir kala itu. Tapi masukan dari kita seperti abai luput tindakan penanganan dengan berbagai alasan,” tegas Adli Abdullah.

Saat ini, warga Pining hanya bisa berharap ada tindakan nyata untuk membuka kembali akses jalan yang terputus. Tanpa perbaikan segera, komoditas unggulan lainnya seperti kopi dan kakao dipastikan akan menyusul nasib durian, menjadi saksi bisu kegagalan infrastruktur yang mematikan ekonomi rakyat.

50% LikesVS
50% Dislikes