Pabrik pengolahan porang di Lombok Timur dipastikan siap beroperasi pada tahun 2026. Kehadiran fasilitas ini diharapkan menjadi solusi atas kendala bahan baku yang selama ini dihadapi Industri Kecil Menengah (IKM) lokal, sekaligus memperkuat posisi Lombok Timur sebagai pusat hilirisasi porang di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Sekretaris Dinas Perindustrian Lombok Timur, Lalu Alwan Wijaya, mengungkapkan bahwa proses persiapan saat ini telah memasuki tahap finalisasi infrastruktur pendukung. Pihaknya optimistis operasional pabrik akan berjalan mulus tahun ini, meskipun sempat terkendala masalah kelistrikan.

Mengenai target serapan bahan baku, pemerintah telah mencatat adanya komitmen melalui kontrak pengadaan dengan berbagai pihak. Volume kontrak yang terdata hingga saat ini mencapai ribuan ton.

Komitmen Pengadaan dan Pasokan Bahan Baku

“Kalau melihat dari sisi kontrak, baik itu badan maupun perorangan, sudah ada kontrak untuk pengadaan itu sekitar 4.500 ton untuk tahun 2026. Ini sifatnya kontrak antara petani dengan pihak sentra yang akan mengoperasikan,” ujar Lalu Alwan pada Kamis (5/1/2026).

  Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal Lantik 9.411 PPPK Paruh Waktu, Ingatkan Pengabdian sebagai Ibadah

Ia menambahkan, pasokan bahan baku tidak hanya bersumber dari petani di Lombok Timur, tetapi juga merangkul daerah lain di NTB, termasuk Kabupaten Lombok Utara (KLU) dan wilayah Sumbawa. Langkah ini diambil untuk memastikan kapasitas produksi pabrik yang mencapai puluhan ribu ton dapat terpenuhi secara berkelanjutan.

Terkait harga beli di tingkat petani, pemerintah masih melakukan survei dan koordinasi agar selaras dengan harga pasar di Pulau Jawa. Hal ini bertujuan untuk menghindari ketimpangan harga yang dapat merugikan salah satu pihak.

“Kisaran harga biasanya antara Rp7.000 sampai Rp8.000 per kilo, tapi kita belum berani pastikan karena harus sesuai dulu dengan yang ada di Jawa supaya tidak ada disparitas harga,” jelasnya.

Kesiapan Fisik dan Target Pendapatan Daerah

Secara fisik, bangunan pabrik dinyatakan telah siap. Saat ini, fokus pengerjaan diarahkan pada penyelesaian akses jalan internal sepanjang 160 meter untuk mobilisasi bahan baku serta penyediaan jembatan timbang.

“Kondisi pabrik kita sudah ready, sudah siap. Ada satu item lagi yang sedang disegerakan, yaitu jalan sekitar 160 meter di dalam untuk menempatkan bahan baku. Jembatan timbang dan segala fasilitas lainnya juga sudah siap,” tambah Lalu Alwan.

  NTB Wajibkan Ojek Online Gunakan Plat Lokal DR dan EA, Perusahaan Aplikator Harus Punya Kantor Cabang

Dengan beroperasinya pabrik ini, Dinas Perindustrian optimistis dapat melampaui target Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang telah ditetapkan. Jika tahun lalu realisasi berada di angka Rp260 juta, tahun ini target dipatok lebih tinggi.

“Kemarin kita ditargetkan Rp389,6 juta untuk porang saja. Saya optimis bisa lebih. Kalau kemarin kita agak terlambat memulai karena terkendala listrik, sekarang bahan baku sudah kita koordinasikan dengan pihak ketiga dan perjanjiannya sudah ada,” pungkasnya.

Kehadiran pabrik tepung porang ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga memperkuat pemberdayaan IKM lokal yang selama ini kesulitan mendapatkan bahan baku tepung porang berkualitas dengan harga terjangkau.

50% LikesVS
50% Dislikes