Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Selong, Lombok Timur, terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pembinaan kepribadian yang bermakna bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP) yang mereka sebut sebagai Santri. Salah satu upaya terbaru adalah melalui kegiatan Kajian Islam yang diselenggarakan pada Kamis, 1 Januari 2026.

Kajian Islam kali ini menghadirkan Pimpinan Pondok Pesantren As-Sunnah Lombok Timur, Ustadz Abdulloh Husni, Lc. Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Abdulloh Husni menyampaikan materi mendalam seputar makna keislaman, pemahaman komprehensif tentang kalimat syahadat, serta keutamaannya dalam kehidupan seorang muslim.

Ilmu dan Iman: Makanan Ruhani Santri

Dalam pemaparannya, Ustadz Abdulloh Husni menekankan pentingnya ilmu dan kajian Islam sebagai penopang spiritual. “Ilmu dan kajian Islam adalah makanan bagi ruh, yang menghidupkan hati dan memperkuat iman,” katanya.

Suasana kajian berlangsung hangat dan interaktif. Para Santri Lapas Selong tampak antusias mengikuti materi yang disampaikan. Mereka aktif menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, bahkan beberapa di antaranya mendapatkan hadiah sebagai bentuk apresiasi atas semangat dan pemahaman yang ditunjukkan.

  Bupati Lombok Utara: "Bekerja Maksimal dengan Hasil Berkualitas untuk Masyarakat"

Membangun Mindset Santri, Bukan Sekadar WBP

Kepala Lapas Kelas IIB Selong, Sudirman, menyampaikan dukungannya terhadap inisiatif pembinaan keagamaan ini. Menurut Sudirman, penyebutan WBP sebagai Santri merupakan bentuk penghormatan sekaligus harapan besar agar mereka benar-benar menempatkan diri sebagai individu yang sedang menuntut ilmu dan berupaya memperbaiki diri.

“Kami ingin membangun mindset bahwa mereka bukan sekadar WBP, tetapi Santri yang sedang ditempa agar kelak kembali ke masyarakat dengan akhlak dan pemahaman agama yang lebih baik,” ujar Sudirman.

Melalui kegiatan kajian Islam yang berkesinambungan ini, Lapas Selong berharap pembinaan mental dan spiritual para Santri dapat semakin kuat. Hal ini sejalan dengan tujuan pemasyarakatan untuk membentuk manusia yang sadar akan kesalahan, bertanggung jawab, dan siap kembali berintegrasi secara positif di tengah masyarakat.

50% LikesVS
50% Dislikes