Fenomena video pendek berjuluk “sok imut” atau “yang lagi viral sok imut” tengah merajalela di jagat media sosial Indonesia. Sejak beberapa hari terakhir, tren ini menjadi perbincangan hangat di berbagai platform seperti TikTok, YouTube, dan X (Twitter), bahkan memicu lonjakan pencarian daring terkait “yg lagi viral sok imut cara nonton”. Namun, di balik daya tarik dan rasa penasaran yang ditimbulkannya, tersimpan kontroversi serta ancaman keamanan digital serius yang patut diwaspadai.
Video viral tersebut umumnya menampilkan seorang remaja perempuan berhijab dan berbusana serba hitam. Ia melakukan berbagai ekspresi dan pose yang terkesan dibuat-buat, seperti manyun, pose manja, atau tatapan menggoda, yang oleh warganet sering disebut sebagai “sok imut”. Adegan sering kali dimulai dengan ekspresi cemberut, lalu berubah menjadi lebih “imut” setelah muncul tangan seorang lelaki—yang terlihat dari aksesori seperti cincin dan gelang hitam—memegang dagu atau pipi sang perempuan.
Yang membuat fenomena ini semakin ramai adalah narasi yang berkembang di kolom komentar. Banyak akun mengklaim bahwa video pendek tersebut hanyalah “teaser” atau cuplikan awal dari sebuah video dewasa yang lebih panjang, di mana remaja dalam video disebut sebagai salah satu pemerannya. Narasi ini sengaja dibangun untuk menggugah rasa ingin tahu dan mendorong warganet mencari versi “lengkapnya”.
Di sinilah masalah keamanan mulai muncul. Untuk “bisa menonton” video asli yang dianggap versi panjang, para kreator atau akun-akun tertentu biasanya mengarahkan netizen untuk mengklik tautan eksternal yang disematkan di kolom komentar atau bio akun pengunggah video. Tautan-tautan ini sering kali diumbar dengan iming-iming akses ke konten eksklusif.
Waspada Jebakan Keamanan Digital
Tautan-tautan yang ditawarkan dalam tren “viral sok imut” ini sangat berisiko tinggi. Umumnya, tautan tersebut mengarahkan pengguna ke situs luar yang tidak jelas, yang berpotensi berisi:
- Jebakan Phishing: Situs palsu yang dirancang mirip platform login populer (seperti Google, Facebook, atau Instagram) untuk mencuri nama pengguna, kata sandi, dan data pribadi lainnya.
- Malware atau Spyware: Program berbahaya yang dapat terunduh secara diam-diam ke perangkat, mencuri data sensitif (termasuk informasi perbankan), atau merusak sistem.
- Scam Berbayar: Meminta pengguna untuk mendaftar dengan nomor ponsel atau melakukan pembayaran kecil untuk akses, yang pada akhirnya hanya merugikan dan tidak memberikan konten yang dijanjikan.
Imbauan untuk Pengguna Media Sosial
Menyikapi tren ini, masyarakat diimbau untuk tetap kritis dan waspada terhadap berbagai modus penipuan daring. Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:
- Jangan mudah tergoda dengan iming-iming konten eksklusif dari sumber tidak resmi.
- Hindari mengklik tautan sembarangan, terutama yang berasal dari akun tidak terverifikasi atau kolom komentar yang mencurigakan.
- Periksa reputasi sumber. Konten viral yang sah biasanya tersebar di platform utama tanpa perlu dialihkan ke tautan eksternal berisiko.
- Pastikan keamanan perangkat dengan menggunakan antivirus dan memperbarui sistem secara berkala.
- Laporkan akun-akun yang secara terang-terangan menyebarkan tautan mencurigakan atau konten yang melanggar pedoman komunitas platform.

