Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyampaikan permohonan maaf secara terbuka terkait pernyataannya yang sempat viral dan dinilai meremehkan bantuan dari Malaysia untuk penanganan bencana di Aceh. Permintaan maaf ini disampaikan setelah gelombang kritik muncul di media sosial dan berbagai platform berita.
Kontroversi bermula ketika Tito Karnavian, dalam sebuah kunjungan kerja ke Aceh pada pekan lalu, melontarkan pernyataan yang diinterpretasikan publik sebagai bentuk kurangnya apresiasi terhadap uluran tangan negara tetangga. Meskipun tidak ada kutipan langsung yang spesifik mengenai ‘peremehan’ dalam pernyataan awal yang viral, persepsi tersebut dengan cepat menyebar.
Klarifikasi dan Permohonan Maaf Mendagri
Menanggapi polemik yang berkembang, Tito Karnavian menegaskan bahwa tidak ada niat sedikit pun untuk meremehkan atau tidak menghargai bantuan dari negara mana pun, termasuk Malaysia. Ia menjelaskan bahwa konteks pernyataannya mungkin telah disalahpahami atau terpotong dari keseluruhan konteks.
“Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada pihak-pihak, khususnya dari Malaysia, yang merasa tersinggung atau pernyataan saya kemarin dinilai meremehkan. Sama sekali tidak ada niat seperti itu. Kami sangat menghargai setiap bantuan dan solidaritas dari negara sahabat,” ujar Tito Karnavian dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (19/12/2025).
Mendagri menambahkan, pemerintah Indonesia selalu menjunjung tinggi semangat persahabatan dan kerja sama regional. “Bantuan dari Malaysia, seperti yang sudah-sudah, selalu kami sambut dengan tangan terbuka dan merupakan wujud nyata persaudaraan serumpun,” tambahnya.
Komitmen Apresiasi Bantuan Internasional
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Dalam Negeri, memastikan bahwa setiap bantuan kemanusiaan dari negara sahabat akan selalu diapresiasi dan disalurkan secara transparan kepada masyarakat yang membutuhkan. Insiden ini diharapkan menjadi pelajaran untuk lebih berhati-hati dalam berkomunikasi di ruang publik.
“Kami berkomitmen untuk terus memperkuat hubungan baik dengan Malaysia dan negara-negara lain. Solidaritas internasional sangat penting dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk bencana alam,” tutup Tito.





