Menjelang bulan suci Ramadhan, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menunjukkan kesiapan komprehensif dalam menghadapi dinamika sosial-ekonomi yang meningkat. Pemerintah provinsi bersama kabupaten/kota bergerak simultan, memastikan stabilitas harga pangan, ketahanan pasokan, penguatan ekonomi lokal, hingga optimalisasi layanan kesehatan bagi masyarakat.
Kesiapan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan cerminan kapasitas birokrasi dan sinergi lintas sektor dalam menjaga keberlangsungan ibadah dan kesejahteraan warga. Berbagai strategi inovatif diterapkan untuk mengatasi tantangan klasik seperti lonjakan permintaan dan fluktuasi harga komoditas pokok.
Intervensi Pasar dan Ketahanan Pangan
Salah satu perhatian utama adalah kenaikan harga cabai rawit. Pada awal Februari 2026, harga cabai rawit di NTB mencapai Rp90.000 hingga Rp95.000 per kilogram, bahkan menembus Rp110.000 per kilogram di Mataram. Angka ini jauh di atas harga acuan Rp57.000 per kilogram, dipicu oleh curah hujan yang menghambat panen, tingginya pasokan ke luar daerah, dan peningkatan permintaan lokal.
Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Provinsi NTB langsung melakukan intervensi melalui gerakan pangan murah dan pasar rakyat. Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal turun langsung memantau pasar di Mataram, Lombok Timur, dan kabupaten lain. Langkah ini bertujuan memastikan distribusi prioritas kebutuhan lokal sebelum pengiriman ke luar daerah, sekaligus menekan lonjakan harga ekstrem.
Stabilitas stok bahan pokok lainnya juga menjadi fokus. Bulog NTB mencatat ketersediaan beras sekitar 154 ribu ton, cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga 10 bulan ke depan. Stok minyak goreng mencapai 307 ribu liter, sementara pasokan daging sapi dijaga dengan mendatangkan ternak dari Sumbawa hingga 10 ribu ekor. Strategi proaktif ini tidak hanya mengandalkan pengawasan harga, tetapi juga intervensi rantai pasok agar masyarakat tetap memperoleh akses pangan dengan harga wajar.
Pendekatan inovatif juga diterapkan melalui gerakan diversifikasi produksi. Pemerintah mendorong petani menanam cabai tumpang sari dengan sayuran lain, memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam komoditas pangan, dan mengoptimalkan panen sepanjang tahun. Strategi ini bertujuan meningkatkan pendapatan petani, mengurangi ketergantungan pasokan, serta menciptakan ketahanan pangan keluarga secara mandiri. Contoh nyata terlihat di Lombok Tengah, di mana gerakan pangan murah dilaksanakan melalui kolaborasi masyarakat dan sektor terkait.
Penguatan Ekonomi Lokal dan Layanan Kesehatan
Bazar Ramadhan menjadi bagian integral dari strategi penguatan ekonomi lokal. Desa Bilebante, yang dianugerahi Desa Wisata Terbaik Nasional 2025, menyelenggarakan Bazar Ramadan Bilebante sebagai pusat kuliner dan produk lokal. Kegiatan ini berhasil menghidupkan kembali bangunan yang mangkrak selama lima tahun, sekaligus menjadi sarana silaturahmi, peningkatan pendapatan masyarakat, dan penguatan UMKM. Semarak bazar ini juga mendukung objek wisata hijau berbasis masyarakat, memperluas manfaat ekonomi kreatif, serta mendorong integrasi pariwisata dan ekonomi lokal.
Distribusi komoditas perikanan juga mendapat perhatian khusus. Stok ikan di gudang pendingin di NTB tercatat aman, dengan total sekitar 317.064 kilogram. Pemerintah mendorong optimalisasi pemanfaatan gudang pendingin, penguatan budi daya ikan, serta koordinasi lintas sektor agar harga tetap stabil dan distribusi merata hingga kebutuhan masyarakat terpenuhi.
Selain pangan, kesiapan mental, spiritual, dan kesehatan masyarakat juga menjadi prioritas. Pemerintah kabupaten/kota bersama organisasi kemanusiaan, seperti Bulan Sabit Merah Indonesia dan Baznas, menyelenggarakan seminar dan pelatihan. Di Sumbawa Barat, misalnya, seminar kesehatan menjelang Ramadhan menekankan pentingnya persiapan mental spiritual dan kekuatan batin agar ibadah berjalan lancar.
Layanan kesehatan tetap berjalan optimal selama Ramadhan. Dinas Kesehatan Kota Mataram menjamin 11 puskesmas tetap memberikan pelayanan sesuai standar operasional, meskipun ada penyesuaian jam kerja. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah pusat juga beradaptasi dengan Ramadhan, di mana menu makanan disesuaikan seperti telur rebus, roti, dan buah untuk takjil berbuka puasa. Penyaluran tetap berlangsung tanpa mengurangi kualitas atau jumlah penerima manfaat, yang mencapai hampir 1,94 juta jiwa di seluruh NTB.
Membangun Ketahanan Sistemik Berkelanjutan
Kesiapan NTB menghadapi Ramadhan menunjukkan pendekatan holistik yang tidak semata-mata reaktif, melainkan membangun ketahanan sistemik berbasis kolaborasi. Sinergi antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, Bulog, aparat keamanan, dan komunitas lokal menjadi fondasi penting bagi kelancaran ibadah masyarakat, sekaligus penguatan ekonomi dan kesejahteraan sosial.
Ke depan, beberapa langkah strategis dapat diperkuat. Pertama, sistem monitoring harga dan distribusi harus berbasis data real-time dengan integrasi teknologi agar intervensi pasar lebih tepat sasaran. Kedua, pemberdayaan UMKM dan desa wisata harus terus dikaitkan dengan ketahanan pangan dan ekonomi lokal untuk manfaat berkelanjutan. Ketiga, diversifikasi produksi pangan dan perikanan perlu diperluas, termasuk inovasi budi daya di pekarangan dan integrasi ekosistem pertanian-peternakan yang adaptif terhadap musim.
Integrasi program sosial seperti MBG, pasar rakyat, dan bazar Ramadhan juga harus menjadi bagian dari kebijakan jangka panjang, bukan sekadar program insidental. Dengan pendekatan ini, NTB tidak hanya siap menyambut Ramadhan, tetapi juga menciptakan fondasi bagi ketahanan pangan, ekonomi, dan sosial yang berkelanjutan, sekaligus menanamkan nilai gotong royong di masyarakat.
Strategi ini membuka ruang refleksi bagi pemerintah daerah lain di Indonesia, menegaskan bahwa kesiapan Ramadhan adalah momentum untuk memperkuat sistem, memberdayakan masyarakat, dan meneguhkan ketahanan lokal sebagai bagian dari pembangunan nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
