Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengakui adanya keterlambatan penanganan infrastruktur di jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa. Kondisi ini menyebabkan penurunan tingkat kemantapan jaringan jalan nasional di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta menjelang libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).
Dody menjelaskan, berdasarkan data Kementerian PU, persentase kemantapan jalan nasional di wilayah Jateng-DIY saat ini mencapai 91,73% dari total panjang 1.886,60 km. Namun, khusus untuk jalur Lintas Utara (Pantura), angka kemantapannya berada di bawah rata-rata nasional, yakni sebesar 88,86%.
“Ada keterlambatan penanganan, utamanya di Pantura, sehingga kemantapannya turun. Namun, saya lebih suka data ini muncul secara jujur saat diaudit. Dengan begitu, kita bisa langsung melakukan perbaikan sana-sini untuk mengejar ketertinggalan,” ujar Dody saat meninjau Posko Nataru di Kantor Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.1 Tegal pada Sabtu (20/12).
Untuk mengantisipasi potensi kendala dan menjamin kenyamanan pengguna jalan, Kementerian PU menyiagakan 19 Posko Nataru di seluruh Jawa Tengah. Setiap posko dilengkapi dengan Disaster Relief Unit (DRU) yang siap bergerak cepat jika terjadi bencana.
Kementerian PU juga mengidentifikasi 24 titik rawan bencana di sepanjang ruas jalan Jawa Tengah yang perlu diwaspadai pemudik. Rinciannya terdiri dari 15 titik rawan banjir dan 9 titik rawan longsor.
“Yang utama adalah peralatan yang diperlukan sudah siap di posisi strategis. Jika terjadi bencana, tim langsung beraksi sehingga tidak mengganggu kenyamanan masyarakat,” tegas Dody.
Masyarakat yang berencana melintasi jalur Pantura maupun lintas tengah Jawa Tengah diimbau untuk tetap waspada, terutama saat terjadi hujan lebat. Hal ini mengingat status kemantapan jalan yang sedang dalam masa pemulihan dan pemeliharaan intensif.









