Pemerintah Kabupaten Lamongan memperpanjang status tanggap darurat bencana banjir hingga 26 Januari 2026. Keputusan ini diambil menyusul belum surutnya genangan air yang merendam enam kecamatan di wilayah tersebut, dipicu oleh luapan Waduk Bengawan Jero.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, Satriyo Nurseno, menjelaskan bahwa banjir disebabkan oleh luapan Waduk Bengawan Jero. Air dari waduk tidak dapat dibuang ke Sungai Bengawan Solo, sehingga menyebabkan arus berbalik dan meluber ke permukiman warga.
“Status tanggap darurat di Lamongan sudah diperpanjang sampai 26 Januari 2026. Pompa di Rumah Pompa Kalitengah masih terus dioperasikan untuk mengurangi debit air Bengawan Jero,” ujar Satriyo di Surabaya, Kamis (15/1).
Meski demikian, Satriyo memastikan kondisi genangan air di kawasan Waduk Bengawan Jero relatif stabil. BPBD Jawa Timur bersama BPBD Kabupaten Lamongan telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mempercepat surutnya air.
Dua unit pompa di Rumah Pompa Kalitengah dioperasikan secara maksimal, dengan masing-masing mesin mampu menyedot sekitar 10 ribu liter air per detik. Selain itu, pintu air dibuka lebar guna mengalirkan debit air ke saluran utama.
“Pintu air kami buka secara optimal agar pembuangan air ke saluran utama berjalan lancar,” kata Satriyo.
Selain penanganan teknis, bantuan logistik berupa sembako dan kebutuhan dasar telah disalurkan secara merata ke wilayah terdampak sejak status tanggap darurat diberlakukan. BPBD Jawa Timur juga terus memantau tinggi muka air sungai serta menyiagakan peralatan untuk mengantisipasi kemungkinan banjir susulan.
Satriyo mengimbau masyarakat tetap waspada, terutama warga yang tinggal di bantaran sungai. “Potensi hujan masih ada, meski kondisi cuaca hari ini cenderung berawan,” ujarnya.
Banjir diketahui melanda enam kecamatan, yaitu Kecamatan Turi, Kalitengah, Lamongan, Karangbinangun, Deket, dan Glagah. Ketinggian genangan air di lokasi tersebut berkisar antara 10 hingga 59 sentimeter.

