Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram mulai memasang pagar di sepanjang taman yang berada di pintu masuk Bypass Mataram-Lombok Barat pada Selasa, 30 Desember 2025. Langkah ini diambil untuk mengatasi kerusakan taman kota yang kerap terjadi akibat ulah oknum warga dan pedagang kaki lima (PKL) di area tersebut.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, Nizar Denny Cahyadi, menjelaskan bahwa pemasangan pagar merupakan upaya terakhir setelah taman-taman tersebut terus mengalami kerusakan. “Baru kita buat, karena taman kita disana rusak semua. Kami tanami bunga, diinjak-injak, dipakai duduku, digelarin tikar,” kata Nizar saat dikonfirmasi.
Nizar menambahkan, kerusakan terjadi karena area taman seringkali disalahgunakan warga dan pedagang untuk berbagai aktivitas, sehingga fungsi estetika taman tidak lagi terpenuhi. Area pintu masuk Bypass Mataram-Lobar memang dikenal ramai dengan puluhan hingga ratusan PKL yang menjajakan berbagai dagangan, mulai dari tahu tek-tek, bakso, rujak buah, es tebu, hingga kopi keliling.
Ramainya aktivitas jual beli ini mengubah fungsi taman kota menjadi lapak jualan atau tempat makan bagi pembeli. “Rusak, akhirnya dengan terpaksa kita pagarin, biar nggak rusak lagi taman kita,” tegas Nizar.
Untuk pemasangan pagar ini, DLH Kota Mataram mengalokasikan anggaran sekitar Rp 50 juta. “Sekitar Rp 50 juta,” jelas Nizar.
Langkah Pemkot Mataram ini mendapat respons positif dari masyarakat. Komala Dewi, salah seorang warga Mataram, menyambut baik pemasangan pagar tersebut sebagai upaya menjaga keindahan taman. “Bagus loh dipagarin begini, soalnya taman-taman disini suka rusak. Kadang taman-taman itu berubah jadi tempat makan-makan, dipasangi tikar sama pedagangnya, ada yang dipakai buat lokasi jualan. Kesan tamannya hilang, karena dari siang sampai malam berubah jadi lapak PKL,” ujarnya.
Senada dengan Komala, Ikhsan, warga Mataram lainnya, berharap Pemkot Mataram juga menerapkan hal serupa di taman-taman kota lain yang rawan disalahgunakan. “Semoga taman-taman lain dipagarin juga, sayang banget sama tanamannya kalau diinjak-injak. Malah jadi terkesan kumuh,” kata Ikhsan.
