Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sukses menggelar 2.436 Gerakan Pangan Murah (GPM) sepanjang tahun 2025 hingga menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Ribuan kegiatan ini berhasil mencatatkan total omzet sebesar Rp45,7 miliar, menunjukkan komitmen daerah dalam menjaga stabilitas harga dan ketahanan pangan masyarakat.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mengungkapkan data tersebut usai meninjau penjualan pangan murah bagi komunitas ojek online di Gudang Perum Bulog, Pedurungan, Kota Semarang, pada Sabtu (20/12). Menurutnya, GPM menjadi instrumen vital untuk mengendalikan inflasi dan berfungsi sebagai jaring pengaman sosial bagi keluarga kurang mampu.
Strategi Pemprov Jateng Jaga Stabilitas Harga
Taj Yasin menjelaskan bahwa GPM menyediakan berbagai kebutuhan pokok seperti beras, jagung, minyak goreng, daging, dan komoditas lainnya dengan harga di bawah pasar. “Kami telah menggelar GPM di seluruh daerah di Jawa Tengah sebanyak 2.436 kali dengan total omzet mencapai Rp45,7 miliar,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Langkah ini memfasilitasi masyarakat untuk mendapatkan bahan pokok yang terjangkau saat harga di pasar cenderung melonjak.” Strategi ini melibatkan sinergi antara Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan petani lokal. BUMD membeli hasil panen petani dengan harga layak, kemudian menyalurkannya kepada masyarakat melalui skema subsidi.
Intervensi pasar ini terbukti efektif menekan spekulasi harga di tingkat pedagang. Pemprov Jateng menyiapkan skema matang untuk mengendalikan inflasi agar masyarakat dapat menyambut Nataru dengan sukacita tanpa kekhawatiran terkait ketersediaan pangan.
Ketersediaan Pangan Aman dan Surplus Produksi
“Kita bisa melihat kondisi di Gudang Perum Bulog kita, stok masih aman terkendali. Insya Allah, ketersediaan pangan sangat mencukupi untuk kebutuhan Nataru,” tegas Taj Yasin.
Jawa Tengah juga berhasil mempertahankan posisinya sebagai lumbung pangan nasional dengan status produksi yang surplus. Keberhasilan ini menempatkan Jawa Tengah sebagai penyumbang ketahanan pangan terbesar nomor dua di Indonesia.
“Produksi pangan kita tetap surplus. Kami berkomitmen untuk terus menggenjot produktivitas di tahun-tahun mendatang agar kontribusi Jawa Tengah terhadap kedaulatan pangan nasional semakin meningkat,” pungkas Taj Yasin.
