Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengerahkan belasan unit pompa air berkapasitas besar dan menyalurkan bantuan logistik senilai ratusan juta rupiah untuk mengatasi banjir yang tak kunjung surut di Kabupaten dan Kota Pekalongan. Banjir yang telah merendam wilayah tersebut selama tiga pekan ini mengakibatkan ribuan rumah terendam dengan ketinggian air mencapai 39 hingga 120 sentimeter, memaksa warga bertahan di sejumlah titik pengungsian.
Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, pada Rabu (11/2) menyatakan bahwa upaya penanganan darurat telah dimulai. “Kita sudah kirim dan pasang 12 unit pompa portabel yakni 8 unit pompa dari DPUPR Provinsi Jawa Tengah, 4 unit pompa dari BPBD Kabupaten/kota Demak, Kota Semarang, Kota Surakarta, dan Pemalang,” ujarnya.
Bergas menambahkan, pengerahan belasan pompa air portabel berkapasitas besar ini merupakan instruksi langsung dari Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi. Langkah ini diambil untuk mempercepat penanganan banjir yang masih merendam Pekalongan, dengan harapan air dapat segera surut.
Selain pompanisasi, penanganan darurat juga dilakukan melalui peninggian tanggul sungai menggunakan sandbag. Upaya ini merupakan hasil kerja sama antara Pusdataru, DPUPR, TNI, dan Polri. Bergas menjelaskan, “Saldhvsatu penyebab banjir sulut surut karena limpasan air dari Sungai Sengkarang dan Sungai Meduri.”
Tidak hanya itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga telah menyalurkan bantuan logistik. Untuk Kota Pekalongan, bantuan senilai Rp169.731.854 telah disalurkan, sementara Kabupaten Pekalongan menerima bantuan senilai Rp182.236.270. Total bantuan yang telah diberikan mencapai Rp359.395.578.
Bantuan tersebut disalurkan melalui Dinas Sosial, BPBD, dan Dinas Ketahanan Pangan setempat, serta dari Korpri Provinsi Jawa Tengah. Bergas memastikan bahwa penyaluran bantuan akan terus berlanjut guna memastikan kebutuhan dasar warga terdampak dapat teratasi lebih awal.
Sebelumnya, ratusan warga Tirto, Kabupaten Pekalongan, sempat mendatangi kantor bupati untuk mendesak penanganan banjir yang dinilai lamban. Mereka mengeluhkan kesulitan beraktivitas dan lumpuhnya perekonomian akibat genangan air yang tak kunjung surut.
