MAKASSAR – Pengguna layanan kereta api di Sulawesi Selatan, khususnya untuk jurusan Stasiun Mandai (Maros) hingga Garongkong (Barru), menyampaikan keluhan terkait praktik rebutan kursi. Kondisi ini dinilai menciptakan ketidaknyamanan bagi penumpang, terutama saat jam sibuk.
Kiki, salah seorang warga Kota Makassar yang baru pertama kali mencoba moda transportasi ini, mengaku terkejut mendapati penumpang bisa duduk di sembarang kursi yang tersedia, dengan prinsip “siapa cepat dia dapat”. Pengalaman ini mengingatkannya pada kondisi puluhan tahun silam di Pulau Jawa.
“Ini sangat tidak nyaman karena saya membawa anak-anak yang masih kecil dan harus berdesakan dengan orang dewasa. Bisa jadi kaki anak saya terperosok di antara lubang kereta dan dinding pembatas,” ujar Kiki, Rabu (18/2/2026).
Ia menambahkan, masih banyak penumpang yang terpaksa berdiri karena tidak mendapatkan tempat duduk. Kiki juga menyoroti tidak adanya nomor kursi pada tiket, yang membuat perebutan tempat duduk tak terhindarkan saat penumpang memasuki gerbong.
Selain itu, pembelian tiket kereta api masih harus dilakukan langsung di stasiun dan belum tersedia secara daring. “Ini terkadang merepotkan, terutama bagi masyarakat yang rumahnya jauh dari stasiun,” keluhnya.
Menurut Kiki, kondisi ini harus menjadi perhatian serius bagi Badan Pengelola Kereta Api (BPKA) setempat, mengingat minat masyarakat terhadap layanan kereta api kini mulai meningkat, khususnya pada akhir pekan atau hari libur.
Operasional dan Tiket KA Lontara
Kereta api di Stasiun Mandai, Maros, mulai beroperasi terbatas pada Desember 2023 sebagai bagian dari perluasan relasi KA Lontara yang melayani rute Mandai–Garongkong. Stasiun ini diresmikan sebagai bagian dari proyek kereta api Makassar-Parepare, dengan operasional penuh dan pengembangan lanjutan yang terus berlanjut hingga saat ini.
Tiket kereta api untuk rute Stasiun Mandai ke Garongkong dijual seharga Rp10.000 per orang dan beroperasi setiap hari.
Menanggapi keluhan tersebut, petugas kereta api di Stasiun Garongkong menyatakan telah menyediakan formulir khusus secara daring untuk menampung kritik dan saran guna mengoptimalkan pelayanan.
“Silahkan diisi surveinya pak, sesuai kritik dan sarannya,” ujar seorang petugas di Stasiun Garongkong.
