SUKUR, 45, seorang petani kentang di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah, sempat dilanda kekecewaan mendalam. Kabar pencabutan subsidi pupuk untuk komoditas kentang memicu rasa marah, kesal, sedih, dan protes bercampur aduk.
“Bagaimana tidak marah dan protes, tiba-tiba saja kami tidak boleh membeli pupuk bersubsidi. Kami harus mengeluarkan ongkos lebih banyak untuk memupuk tanaman kentang. Bukan hanya saya saja yang protes, melainkan ribuan petani lainnya juga mengalami hal yang sama, terutama di kawasan Dieng di perbatasan antara Banjarnegara dan Wonosobo,” ungkap Sukur saat berbincang dengan Media Indonesia pada Rabu (24/12).
Protes para petani kentang ini bermula dari kebijakan pemerintah pada tahun 2022. Melalui Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 10 Tahun 2022 tentang Tata Cara Penetapan Alokasi dan Harga Eceran Tertinggi Pupuk Bersubsidi Sektor Pertanian, kentang dikeluarkan dari daftar komoditas pangan yang berhak menerima pupuk subsidi. Komoditas yang masih mendapat jatah pupuk subsidi saat itu adalah padi, jagung, kedelai, cabai, bawang merah, bawang putih, tebu rakyat, kopi, dan kakao.
Bagi Sukur dan ribuan petani lainnya, respons awal adalah protes keras. Mereka merasa dianaktirikan oleh kebijakan tersebut. “Kami sudah melayangkan protes, tetapi memang sudah menjadi keputusan pemerintah. Mau tidak mau, kami harus berusaha agar tanaman kentang tetap bisa dipupuk,” kata Sukur.
Adaptasi dengan Pupuk Nonsubsidi
Sukur kemudian mulai mencoba berbagai pupuk nonsubsidi sebagai alternatif. Sebelumnya, ia biasa mencampur dua kantong pupuk Phonska subsidi dan satu kantong urea untuk lahan seluas 3.000 meter persegi (m²). Kini, ia hanya membutuhkan satu sak Phonska Plus dengan berat 25 kilogram seharga Rp250 ribu untuk kebutuhan pemupukan lahan yang sama.
Kisah yang awalnya penuh kemarahan itu kini berubah menjadi rasa syukur. Sukur mengaku tidak menyangka bahwa Phonska Plus ternyata sama hematnya dengan penggunaan pupuk subsidi. “Harganya memang berbeda jauh karena pupuk yang saya pakai nonsubsidi. Namun, saya jadi lebih efisien dan bijak dalam pemupukan. Jika dihitung antara ongkos produksi dan hasil kentang, masih tetap menguntungkan,” jelas Sukur.
Ia menambahkan, hasil panen untuk setiap 3.000 meter persegi berkisar antara 2,5 ton hingga 3 ton, dengan harga kentang sekitar Rp10 ribu per kilogram. “Ternyata setelah dijalani, tetap bisa berjalan. Petani juga tidak mengalami kerugian meski harus mengonsumsi pupuk nonsubsidi karena Phonska Plus memang sangat baik untuk tanaman dan lebih hemat,” tambahnya.
Slamet Budiono, 57, petani kentang lainnya yang juga mantan kepala desa, mengakui situasi sulit saat kebijakan pencabutan subsidi pupuk diberlakukan. “Tentu saja banyak petani yang mempertanyakan, mengapa bisa seperti itu, kenapa petani kentang tidak boleh lagi membeli pupuk subsidi, dan berbagai pertanyaan lainnya,” kenangnya.
Slamet merasa berada di posisi dilematis. “Di satu sisi, saya harus memperjuangkan aspirasi petani kentang. Namun di sisi lain, saya juga bagian dari pemerintah yang harus melaksanakan kebijakan. Oleh karena itu, pelan-pelan saya meminta petani untuk mengerti. Saya juga harus memberikan contoh dengan membeli pupuk Phonska Plus sebagai pengganti urea dan Phonska,” jelasnya.
Untuk lahan kentang seluas sekitar 7.000 meter persegi miliknya, Slamet hanya membutuhkan tiga kantong Phonska Plus dengan total biaya sekitar Rp750 ribu. “Memang harganya lebih mahal dibandingkan pupuk subsidi, tetapi sesungguhnya pemupukan menjadi lebih bijak. Sejak awal, saya juga ikut memberikan edukasi kepada para petani kentang. Ternyata hingga sekarang, petani di Dieng tetap membeli Phonska Plus sebagai pilihan,” ungkapnya.
Ia juga mengedukasi petani di Desa Dieng Kulon agar beralih menggunakan Phonska Plus, dengan memberikan contoh nyata. “Sehingga saya harus memberikan contoh agar petani lainnya percaya bahwa Phonska Plus sangat bermanfaat. Berdasarkan informasi yang saya peroleh, Phonska Plus dapat menyehatkan tanah kembali secara berkesinambungan,” katanya.
Pendampingan dan Program Pupuk Indonesia
Kepala Desa Dieng Kulon, Heriyanto, mengapresiasi pendampingan yang diberikan Pupuk Indonesia kepada petani di Dieng. Hampir seluruh dari sekitar 1.300 keluarga di desanya adalah petani kentang. “Pendampingan oleh Pupuk Indonesia sangat membuka wawasan petani, terutama soal pemupukan. Kami jadi tahu tata cara dan dosis pupuk yang tepat sehingga tanaman kentang dapat berproduksi secara maksimal,” katanya.
Heriyanto membuktikan sendiri bahwa Phonska Plus dengan nutrisi lengkapnya membuat tanaman kentang menjadi hijau, pertumbuhannya cepat, dan umbinya besar-besar. “Saya membuktikan sendiri dari lahan seluas 5.000 meter persegi. Sebelumnya hasil panen sekitar 15 ton, setelah menggunakan Phonska Plus meningkat menjadi sekitar 17–18 ton kentang,” ujarnya.
Pupuk Indonesia juga aktif menggelar berbagai program. Pada Juni 2023, melalui program kolaborasi Social Tour Dambaan bersama Yayasan Cakra Abhipraya Responsif, 80 generasi Z dari berbagai daerah diajak membantu petani di Dieng Kulon. Mereka melaksanakan bakti pertanian, lingkungan, dan pendidikan, termasuk edukasi pemupukan dan pengelolaan sampah.
Selain itu, Pupuk Indonesia menyerahkan bantuan sarana produksi pertanian untuk 200 petani, satu unit angkutan sampah, 30 unit tempat sampah, 100 bibit tanaman keras produktif, serta seragam olahraga bagi 350 pelajar SD. Untuk mengoptimalkan potensi pertanian, Pupuk Indonesia juga mendirikan Toko Pe-i di Dieng, mendekatkan perusahaan dengan masyarakat.
Setahun kemudian, Pupuk Indonesia menggelar Ajang Kolaborasi Seluruh Insan (AKSI) di desa setempat, melibatkan 100 karyawan Pupuk Indonesia Grup. Program AKSI ini berfokus pada pertanian, pendidikan, lingkungan, dan sosial, berkolaborasi dengan 24 pemangku kepentingan untuk menciptakan ekosistem pertanian berkelanjutan.
“Desa Dieng Kulon sangat beruntung. Setelah program Social Tour Dambaan sukses dilaksanakan pada 2023 dan mendapat dukungan positif masyarakat, dilanjutkan dengan program AKSI. Tujuannya membantu peningkatan ekonomi dan kepedulian lingkungan masyarakat,” kata Heriyanto.
Sebagai bagian dari kepedulian, pada September lalu Petrokimia Gresik menggelar program Pestani Dieng Raya di Desa Kasimpar, Banjarnegara. Salah satu kegiatannya adalah Lomba Kentang Raksasa yang diikuti 175 petani dari lima kabupaten. Komisaris Utama Petrokimia Gresik, Suhardi Alius, berharap kegiatan ini menarik minat petani, khususnya generasi muda, untuk terjun ke sektor pertanian. “Lomba ini juga menegaskan peran Jawa Tengah sebagai sentra produksi kentang yang berkontribusi besar terhadap kebutuhan nasional,” katanya.
Direktur Keuangan dan Umum Petrokimia Gresik, Adityo Wibowo, menambahkan, gelaran tersebut menjadi stimulus bagi petani dalam mengoptimalkan teknologi budidaya. “Dengan ukuran kentang yang besar, produktivitas meningkat dan kesejahteraan petani bertambah. Lomba ini juga menjadi wujud komitmen Petrokimia Gresik dalam mewujudkan swasembada pangan nasional sesuai Asta Cita Presiden Prabowo,” ujarnya.
Harga Stabil Berkat Program Pemerintah
Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (DPPKP) Banjarnegara, Firman Sapta Ady, menjelaskan bahwa areal kentang di Banjarnegara mencapai 7.644 hektare dengan produktivitas 18,2 ton, tersebar di empat kecamatan, dengan Dieng (Kecamatan Batur) sebagai wilayah terluas.
Firman mengonfirmasi bahwa Permentan Nomor 15 Tahun 2025, yang merupakan aturan pelaksanaan dari Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 6 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Pupuk Bersubsidi, memang tidak memasukkan kentang dan sayuran lainnya sebagai penerima pupuk bersubsidi. “Permentan itu menyebutkan bahwa ada 10 komoditas yang mendapat jatah pupuk subsidi. Untuk tanaman pangan adalah padi, jagung, kedelai, ubi kayu, kemudian hortikultura adalah cabai, bawang merah, bawang putih, serta perkebunan rakyat terdiri dari tebu, kakao, kopi dengan lahan maksimal 2 hektare,” jelasnya.
Pihaknya telah melayangkan surat kepada pemerintah pusat agar petani sayuran, terutama kentang, bisa kembali mendapat pupuk subsidi. “Tetapi, barangkali pemerintah pusat memiliki pertimbangan tertentu, sehingga petani kentang tetap di luar penerima pupuk bersubsidi. Sejauh ini, petani kentang dan sayuran lainnya sudah mengonsumsi pupuk nonsubsidi. Sehingga, sebetulnya petani sudah beradaptasi dengan situasi,” ujar Firman.
Yang menarik, kata Firman, meski mengonsumsi pupuk nonsubsidi, hasil panen yang bagus dan harga yang stabil tetap membuat petani bisa menangguk keuntungan. “Bahkan, dalam setahun terakhir, kami tidak lagi menerima keluhan dari para petani kentang atau sayuran lainnya mengenai harga. Karena, kata mereka, harga tetap stabil. Ternyata, harga yang stabil tersebut merupakan dampak baik dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan pada tahun ini. Betul-betul tidak ada lagi keluhan dari petani sayuran terkait harga,” jelasnya.
Kisah petani Dieng menunjukkan bahwa adaptasi terhadap kebijakan pemerintah, didukung kolaborasi kuat antara pemerintah daerah dan Pupuk Indonesia, menjadi kunci keberhasilan. Berbagai program pendampingan dan aksi sosial yang digelar selama tiga tahun terakhir telah membuktikan hal tersebut, menjaga asa dunia pertanian di kawasan Dieng.
