PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) memulai langkah strategis untuk membangkitkan industri kelapa nasional dengan menjadikan Kabupaten Banyuwangi sebagai proyek percontohan. Sebanyak 10.269 bibit kelapa genjah resmi ditanam di lahan seluas 50,34 hektare di Afdeling Sidomulyo Kampe, Banyuwangi, pada Selasa, 23 Desember 2025.

Proyek ini bukan sekadar inisiatif penghijauan, melainkan model pengembangan kelapa massal yang akan diterapkan di seluruh perkebunan milik PTPN I di Indonesia. Fokus utama dari proyek di Kebun Pasewaran ini adalah keberpihakan pada ekonomi kerakyatan, khususnya bagi perajin gula merah tradisional di wilayah Kampe.

Kemitraan dan Pembagian Hasil yang Adil

Direktur Utama PTPN I, Teddy Yunirman Danas, menegaskan komitmen perusahaan untuk tidak maju sendirian. PTPN I mengusung konsep kemitraan yang dirancang untuk menguntungkan masyarakat sekitar.

“Kami sediakan lahannya, masyarakat yang panen, lalu kita olah bersama. PTPN I bertindak sebagai offtaker (penjamin pembeli). Pembagiannya 70 persen untuk masyarakat dan 30 persen untuk kami,” ungkap Teddy.

Pemilihan kelapa genjah didasarkan pada keunggulannya. Berbeda dengan kelapa dalam yang tinggi, kelapa genjah memiliki postur lebih pendek sehingga memudahkan proses pemanenan. Selain itu, masa tunggunya relatif singkat, yakni hanya membutuhkan waktu 3 hingga 4 tahun untuk mulai berproduksi.

  PT Freeport Indonesia Dorong Daya Saing SDM Gresik Melalui Pelatihan dan Sertifikasi Industri Nasional

Penanaman di lahan Kecamatan Wongsorejo ini dilakukan secara variatif. Lahan seluas 23,46 hektare ditanami varietas Genjah Merah Bali, didukung oleh penanaman Genjah Kuning Nias di area seluas 21,52 hektare, serta dilengkapi dengan varietas Genjah Entog Kebumen pada lahan seluas 5,36 hektare. Proses ini melibatkan tim ahli dari Riset Perkebunan Nusantara untuk memastikan hasil maksimal dan berkelanjutan.

Target Ekspansi dan Agroforestri

Banyuwangi hanyalah permulaan dari rencana besar PTPN I. Direktur Operasional PTPN I, Fauzi Omar, memaparkan ambisi perusahaan untuk memperluas area penanaman di Banyuwangi hingga mencapai 200 hektare secara bertahap.

“Target besar kami tahun ini adalah menanam kelapa di lahan seluas 550 hektare yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia,” jelas Fauzi.

Lebih jauh, kawasan ini diproyeksikan menjadi pusat agroforestri yang terintegrasi. Selain kelapa, PTPN I berencana mengintegrasikan tanaman lain seperti kopi, kakao, hingga karet dalam satu kawasan terpadu, menciptakan nilai tambah yang signifikan.

Apresiasi dari Bappenas

Langkah berani PTPN I ini mendapat apresiasi tinggi dari Kementerian PPN/Bappenas. Sekjen Satgas Percepatan Hilirisasi, Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho, menyoroti pentingnya kepastian bahan baku sebagai kunci sukses hilirisasi.

  InJourney Bandara Internasional Lombok Kini Layani Rute Penerbangan Langsung ke Banyuwangi

“Integrasi antara lahan, sumber bahan baku, dan kesinambungan produksi di Banyuwangi ini adalah model ideal. Konsep agroforestri dengan kopi dan kakao akan memberikan nilai tambah luar biasa bagi sektor perkebunan kita,” tutur Prof. Bayu.

Melalui proyek ini, PTPN I tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga berkomitmen untuk memastikan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani lokal tetap menjadi prioritas utama di tengah arus industri modern.

50% LikesVS
50% Dislikes