Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri dan Polda Sulawesi Selatan kini memulai proses identifikasi terhadap seluruh jenazah dan bagian tubuh korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Maros-Pangkep. Proses ini diperkirakan memakan waktu hingga satu minggu, terutama jika harus melalui pemeriksaan DNA.
Sebelumnya, tim SAR gabungan pada Jumat (23/1) berhasil menuntaskan evakuasi tujuh kantong jenazah terakhir korban pesawat nahas tersebut. Seluruhnya dibawa menggunakan helikopter dari lereng Gunung Bulusaraung.
“Alhamdulillah, operasi SAR gabungan di lereng Gunung Bulusaraung dapat berjalan dengan baik. Seluruh korban berhasil dievakuasi melalui jalur udara,” tegas Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii di Makassar, Jumat (23/1).
Dengan selesainya tahap evakuasi, fokus kini beralih sepenuhnya ke meja identifikasi. Kapolda Sulsel, Irjen Djuhandhani Rahardjo Puro, mengonfirmasi bahwa Bidokkes Polri telah menerima total 11 kantong body pack. Jumlah ini terdiri dari 10 kantong jenazah dan satu kantong berisi potongan tulang, melebihi manifest penumpang yang berjumlah 10 orang.
“Sebelas body pack tersebut diterima secara bertahap mulai 20 hingga 23 Januari 2026,” jelas Djuhandhani.
Dari hasil sementara, tim DVI telah berhasil mengidentifikasi tiga korban. Rincian identitas ketiga korban ini akan diumumkan oleh Kabiddokkes dalam waktu dekat.
Untuk mengidentifikasi korban lainnya, tim DVI melakukan pemeriksaan fisik serta pencocokan data postmortem (otopsi) dan antemortem (seperti gigi, tanda khusus tubuh, dan barang milik). Pemeriksaan DNA menjadi opsi terakhir jika metode lain tidak memungkinkan.
“Saat ini, seluruh sampel pembanding dari keluarga korban telah kami peroleh dari Polda Jawa Barat, Polda Metro Jaya, dan Polda Jawa Tengah. Jika harus melalui DNA, prosesnya bisa memakan waktu sekitar satu minggu,” papar Djuhandhani.
Senada, Brigjen Sumy Hastry Purwanti, Karo Laboratorium Dokkes Pusdokkes Polri, menambahkan bahwa pihaknya membutuhkan waktu sekitar tujuh hari untuk mengidentifikasi tujuh kantong jenazah yang baru diterima dari Basarnas.
“Kami akan lakukan proses identifikasi, mulai dengan identifikasi primer, seperti sidik jari. Jika tidak bisa kita identifikasi gigi. Jika tidak bisa lagi, baru dengan pemeriksaan DNA (Deoxyribo Nucleic Acid), yang tentu sudah dimudahkan dengan pengambilan antemortem sebelumnya dari pihak keluarga,” tutup Hastry.
Masyarakat, khususnya keluarga korban, diimbau untuk bersabar menunggu hasil resmi yang akurat dari tim DVI.

