Palu, Sulawesi Tengah – Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Dharma Sentana Sulawesi Tengah menjalin sinergi dengan Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Sulawesi Tengah. Kolaborasi ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) guna mendorong penguatan sektor pariwisata daerah.

Audiensi yang berlangsung di Palu pada Selasa, 24 Februari 2026, dihadiri oleh jajaran akademisi dan mahasiswa STAH Dharma Sentana. Ketua STAH, Agus Budi Wirawan, memperkenalkan keunggulan institusi yang tengah bertransformasi menuju status institut tersebut.

Agus Budi Wirawan menegaskan, “Kampus siap mencetak lulusan kompeten untuk mendukung sektor pariwisata daerah.” Ia menambahkan bahwa “kolaborasi menjadi fondasi penting dalam menyelaraskan dunia akademik dengan kebutuhan industri pariwisata yang berkembang pesat.”

Program Studi Pariwisata Budaya dan Keagamaan STAH telah terakreditasi B dan bersifat inklusif, terbuka untuk umum lintas agama. Program ini didukung oleh tenaga pengajar lintas bidang untuk memenuhi kebutuhan tenaga profesional di sektor wisata.

Kepala Program Studi Pariwisata Budaya dan Keagamaan, I Gede Adiyana Putra, berharap mahasiswa mendapatkan akses lebih luas untuk melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) dan PPL terintegrasi di instansi kedinasan. “Mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen perubahan dalam menjaga warisan budaya lokal seperti budaya Kaili sembari mempromosikannya ke level internasional,” ujarnya.

Pihak kampus juga berharap sinergi ini terjalin melalui kerja sama penelitian, pengembangan destinasi, hingga pemasaran digital.

Menyambut baik kolaborasi tersebut, Kepala Dinas Pariwisata Sulteng, Diah Agustiningsih, menilai langkah ini strategis untuk memperkuat SDM pariwisata daerah.

Diah menyampaikan rencana pembukaan rute penerbangan internasional Palu-Guangzhou (Tiongkok) pada April mendatang. Menurutnya, ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi kesiapan tenaga pariwisata, khususnya di bidang hospitality dan kepemanduan yang bersertifikasi.

Untuk itu, Dispar Sulteng tengah membentuk Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) sebagai sarana uji kompetensi pemandu wisata. “Kami tengah membentuk Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) sebagai sarana uji kompetensi pemandu wisata dan mengajak mahasiswa mengisi kebutuhan tenaga kerja profesional yang mampu membawa citra positif bagi Sulawesi Tengah,” kata Diah.

Diah Agustiningsih menekankan pentingnya sinergi lima pilar pembangunan pariwisata, yakni pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan media promosi. Ia juga menyoroti peran krusial kolaborasi dengan mahasiswa di era digital, terutama dalam promosi destinasi melalui konten kreatif.

Sebagai contoh, Diah menyebut, “Keberhasilan destinasi Danau Paisu Pok yang viral hingga ke mancanegara menjadi bukti nyata bahwa kekuatan media sosial dan pemanfaatan teknologi seperti AI mampu meningkatkan kunjungan secara signifikan.”

Diah juga menyatakan kesiapan untuk memberikan kuliah umum di kampus, berbagi pengalaman praktis, dan pengelolaan potensi wisata desa seperti Kampung Salena serta kawasan megalit di Lore Lindu.

Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat daya saing pariwisata di Sulawesi Tengah dan memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat.