Sejumlah penarik becak di jalur Pantura Cirebon masih terlihat beroperasi hingga Selasa (17/3/2026). Mereka mengaku terpaksa tetap mencari nafkah lantaran belum menerima uang kompensasi yang dijanjikan pemerintah daerah.

Mukidi, 52 tahun, salah satu penarik becak yang biasa mangkal di depan Pasar Plered, Kabupaten Cirebon, terlihat menunggu penumpang pada Senin (16/3). Warga Watubelah, Kabupaten Cirebon ini memarkir becaknya di bahu jalan, tidak sampai memakan badan jalan beraspal.

“Saya gak dapat uang kompensasi. Jadi saya ya masih narik becak. Kalau memang dapat, saya gak narik lagi,” tutur Mukidi, menegaskan alasannya tetap beroperasi.

Kompensasi untuk Kelancaran Arus Mudik

Sebelumnya, pada Sabtu (14/3), Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi telah menyerahkan kompensasi sebesar Rp1,4 juta per orang kepada penarik becak di Mapolsek Gempol, Kabupaten Cirebon. Bantuan ini diberikan dengan syarat para penerima bersedia untuk tidak beroperasi sementara selama periode mudik dan arus balik, yakni mulai H-7 hingga H+7.

Pemberian kompensasi ini bertujuan untuk mengurangi kepadatan dan kemacetan lalu lintas di jalur mudik, mengingat keberadaan becak seringkali menjadi salah satu penyebabnya. Berdasarkan data Dinas Perhubungan Kabupaten Cirebon, tercatat 557 tukang becak yang beroperasi di jalur Pantura telah menerima bantuan tersebut.

Namun, Mukidi, yang telah mengayuh becak selama 25 tahun di pasar yang sama, mengaku belum pernah sekalipun mendapatkan uang kompensasi tersebut. Ia hanya berani mengantar penumpang ke perumahan di belakang pasar tanpa harus menyeberang jalan.

“Tapi saya ga berani bawa penumpang ke sana,” ujar Mukidi, menunjuk ke seberang jalan atau di ruas arus balik. Ia menambahkan, saat puncak arus mudik tiba dan sejumlah putaran (u-turn) ditutup, ia berencana akan berpindah ke jalur sebaliknya.

“Nanti putaran ditutup, jadi saya pindah ke depan sana,” kata Mukidi, ayah lima anak yang salah satunya masih bersekolah.

Penghasilan Minim dan Harapan Libur

Senada dengan Mukidi, Miskad, 46 tahun, penarik becak lainnya, juga mengungkapkan hal serupa. “Dari dulu, gak pernah sekali pun saya dapat uang kompensasi itu,” ungkap Miskad.

Padahal, ia juga beroperasi di jalur Pantura dan sangat berharap bisa mendapatkan kompensasi agar bisa beristirahat. “Saya juga sekali-kali pengen libur. kalau sekarang gak narik, uang dari mana untuk makan,” keluhnya.

Baik Mukidi maupun Miskad mengaku penghasilan harian mereka berkisar antara Rp30 ribu hingga Rp40 ribu. “Sekarang susah, orang banyak yang bawa motor ke pasar,” tutur keduanya, menggambarkan tantangan mencari penumpang di era modern. Beruntungnya, becak yang mereka gunakan untuk mencari rezeki adalah milik sendiri.

Selain mangkal di bahu jalan, beberapa penarik becak juga terlihat nekat melawan arus lalu lintas. Setelah mengantar penumpang, mereka kerap keluar dari gerbang Batik Trusmi dan melawan arah menuju depan Pasar Plered untuk kembali menunggu penumpang.