Banjir parah melanda Kota Pekalongan setelah tanggul Sungai Bremi jebol sepanjang 35 meter pada Rabu dini hari, 7 Januari 2026. Insiden ini mengakibatkan 335 rumah warga terendam dan sekitar 500 keluarga terdampak. Sebanyak 55 orang terpaksa mengungsi ke SD Pabean dan Kantor Kelurahan karena rumah mereka terendam air setinggi lebih dari 80 sentimeter dan tidak dapat dihuni.
Puluhan petugas gabungan dari Dinas Pekerjaan Umum (PU), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, dan Kepolisian di Pekalongan segera bergerak untuk menambal tanggul Sungai Bremi yang jebol. Proses penambalan darurat diperkirakan memakan waktu hingga tiga hari karena material harus didatangkan ke lokasi. BPBD Kota Pekalongan juga telah menyiapkan dapur umum untuk melayani kebutuhan sekitar 500 keluarga yang terdampak banjir.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Pekalongan, Budi Suheryanto, menyatakan pihaknya terus memantau situasi dan siap melakukan evakuasi lebih lanjut. “Berdasarkan data ada 335 rumah warga terendam banjir, kita terus lakukan pemantauan dan siap mengevakuasi,” kata Budi pada Rabu (7/1).
Budi menambahkan, penanganan darurat tanggul jebol menjadi prioritas mengingat intensitas hujan yang cukup tinggi. Hal ini untuk mencegah banjir semakin meluas dan meninggi. Banjir saat ini telah merendam dua kelurahan, yakni Kelurahan Pabean dan Padukuhan Kraton, Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan, dengan radius mencapai 500 meter dari titik tanggul jebol. Jebolan tanggul juga terjadi di sisi kanan dan kiri sungai.
Fahruddin, seorang warga Kelurahan Pabean, menceritakan kepanikan yang terjadi saat banjir datang. “Cuaca tidak ada hujan saat banjir datang,, kami tidak sempat menyelamatkan barang karena banjir sandar cepat hingga masuk ke dalam rumah dengan ketinggian 70-100 centimeter, kami hanya berfikir menyelamatkan jiwa,” ujarnya. Banjir mulai merendam permukiman warga pada Rabu dini hari sekitar pukul 02.30 WIB, mengejutkan warga yang masih tertidur lelap.
Senada dengan Fahruddin, Hanni, warga lainnya, juga mengungkapkan kepanikan saat air mulai meninggi. “Kami beramai-ramai mencari tempat aman di tengah kondisi masih gelap, karena rumah sudah terendam sandat tinggi,” tambahnya, menggambarkan situasi saat warga berusaha keluar dari rumah yang sudah terendam banjir di atas lutut orang dewasa.
