Tiga destinasi wisata pantai primadona di Tulungagung, yakni Pantai Gemah, Pantai Bayem, dan Pantai Midodaren, menghadapi permasalahan kompleks terkait penanganan sampah. Tumpukan sampah yang muncul pada waktu tertentu menjadi ancaman serius yang dikhawatirkan dapat menurunkan jumlah kunjungan wisatawan jika tidak segera ditangani secara lintas sektor.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Tulungagung, Ardian Candra, menjelaskan bahwa ketiga pantai tersebut tetap menjadi daya tarik utama bagi wisatawan, terutama saat libur nasional seperti Natal dan Tahun Baru (Nataru). Akses menuju pantai-pantai ini sangat mudah melalui Jalur Lintas Selatan (JLS), dan ketiganya berada dalam satu lokasi yang berdekatan.

Aksesibilitas dan Daya Tarik Pantai

Ardian Candra mengungkapkan, “Pantai Gemah, Pantai Bayem dan Pantai Midodaren ini berada pada satu lokasi. Jadi saat wisatawan masuk ke area Pantai Gemah dan membayar tiket, itu sudah bisa menikmati Pantai Bayem sekaligus. Sedangkan untuk Pantai Midodaren itu ada tiket tersendiri.” Kemudahan akses ini menjadikan ketiga pantai tersebut selalu ramai pengunjung.

  Tutup 2025 dengan Gemilang, Imigrasi Surabaya Catat Realisasi Anggaran 99,95% dan Peningkatan e-Paspor

Permasalahan Sampah dan Faktor Cuaca

Meskipun demikian, Ardian mengakui bahwa permasalahan tumpukan sampah terus menghantui ketiga pantai ini setiap tahunnya, terutama pada waktu-waktu tertentu, sehingga seringkali terlihat kumuh. Ia menegaskan bahwa masalah sampah ini bukan disebabkan oleh kelalaian pengelola, melainkan faktor cuaca.

“Lokasi ketiga pantai ini dekat dengan Terowongan Niyama, sehingga saat terjadi cuaca buruk terutama saat curah hujan tinggi, ketiga wisata pantai ini selalu penuh dengan tumpukan sampah,” terang Ardian.

Terowongan Niyama sendiri merupakan muara dari berbagai aliran sungai di Tulungagung dan Trenggalek. Saat cuaca buruk dan curah hujan tinggi, pengelola Terowongan Niyama akan membuka terowongan tersebut untuk membuang air ke Pantai Selatan. Sayangnya, aliran air ini seringkali membawa material sampah, mayoritas sampah rumah tangga, yang kemudian menumpuk di area pantai.

Penanganan Lintas Sektor dan Upaya Diversifikasi Wisata

Ardian Candra menambahkan, penanganan sampah dalam kondisi seperti itu tidak bisa dilakukan sendiri oleh Disbudpar. Diperlukan keterlibatan lintas sektor, termasuk Dinas Lingkungan Hidup (DLH), BPBD, serta pengelola Terowongan Niyama. Hal ini menjadi pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan oleh Disbudpar Tulungagung.

  Wakil Ketua BGN Peringatkan: "Dapur SPPG Akan Disuspen Jika Belum Kantongi SLHS dalam Sebulan"

Selain fokus pada penanganan sampah, Disbudpar Tulungagung juga berupaya untuk memecah konsentrasi wisatawan. “Selain penanganan sampah yang masih menjadi PR kami juga akan berupaya untuk memecah konsentrasi wisatawan agar tidak hanya berkunjung ke tiga pantai itu, melainkan ke pantai-pantai lain di Tulungagung,” pungkas Ardian, Sabtu (3/01/2026).

50% LikesVS
50% Dislikes